Rudolf Dethu
By: Rudolf Dethu
July 1, 2017

Suara Pojok Kampus: Your Body, Your Authority!

Suara Pojok Kampus pada 9 Juni 2017 yang bertajuk “Your Body, Your Authority” kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Suara Pojok Kampus kali ini diikuti dengan acara buka puasa bersama. Hal ini mengundang minat para peserta untuk hadir, khususnya yang datang dari mahasiswa-mahasiswa kampus sekitar Ciputat. Juga dengan menampilkan narasumber muda ternama, menjadikan antusiasme keterlibatan peserta dalam diskusi semakin tinggi.

Bertempat di What’s Up Cafe di Ciputat, sesi diskusi dimulai dengan lantunan suara merdu dari musisi asal Bandung bernama Jon Kastella. Lalu, dilanjutkan diskusi dengan pemaparan materi dari Naila Fitria yang merupakan aktivisi dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Korps HMI Wati (KOHATI). Beliau menjelaskan tentang bagaimana peran penting toleransi dalam menghormati tubuh dan hal yang melekat di dalamnya, seperti identitas, ekspresi dan lain-lain.

Menjelaskan juga tanggung jawab dalam hak dan kebebasan yang kita miliki kepada lingkungan sekitar. Lalu, pemaparan selanjutnya disajikan oleh Adis Puji Astuti yang merupakan seorang aktivis perempuan dari Perutpuan. Beliau memaparkan secara santai dan jenaka mengenai bagaimana generasi muda merespon stigma dan diskriminasi terhadap individual choice. Serta membahas peran gerakan muda melawan berbagai tindakan diskriminatif dan stigma yang telah membudaya di Indonesia. Acara semakin meriah dengan dimoderatori oleh Batulizzakia yang merupakan mahasisiwa filsafat STFI Sadra dan pengurus Liberty Studies. Dengan gaya moderator yang baik dan atraktif, diskusi semakin meriah dengan dialog interaktif dengan para peserta. Ada sekitar 5 penanya dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan membuktikan begitu antusiasnya para peserta dengan tema diskusi yang dibawakan pada hari itu.

Dari dialog-dialog tersebut seluruh peserta dan pemateri dapat disimpulkan bahwa otoritas tubuh merupakan hal yang paling mendasar untuk dihormati sebagai landasan tindakan toleransi antar individu. Dengan berbagai konflik dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu itu menjelaskan bahwa masih dianggap sepelenya hak atas tubuh yang di dalamnya ada komponen-komponen kebebasan untuk berpikir, berekspresi, beridentitas sampai kebebasan untuk memilih dan menentukan sesuatu. Generasi millenials yang hidup di era modern dengan keterbukaan informasi dan pemahaman atas pentingnya hak asasi manusia seharusnya terus menggemakan ide-ide penghormatan atas hak tubuh kepada berbagai lini masyarakat sebagai bentuk dari pendidikan sekaligus menjadi ‘senjata’ peredam konflik antar kelompok masyarakat.

Diskusi yang berlangsung meriah tersebut diakhiri dengan adzan magrib dan buka puasa bersama. Ternyata, nuansa diskusi dan keakraban masih terus berlanjut di meja-meja makan sambil menikmati sajian buka puasa yang telah disediakan. Tidak lupa juga, selama berlangsungnya acara konten-kontennya disiarkan langsung melalui media sosial Liberty Studies dan Forum MBB.

Comments