Rudolf Dethu
By: Rudolf Dethu
July 1, 2017

Suara Pojok Kampus: Dari Literasi Menuju Toleransi di Dunia Digital

Suara Pojok Kampus pada 14 April 2017 yang bertajuk “Dari Literasi, Menuju Tolerasi di Dunia Digital” kali ini pihak penyelenggara banyak diuntungkan dari sisi strategis tempat penyelenggaraan acara, yaitu salah satu kafe tempat berkumpulnya berbagai lembanga aktivis di Karawang, Das Kopi; dan bekerjasama dengan organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang literasi terbesar di Karawang. Hal ini membuat kemudahan menghadirkan berbagai elemen muda dari aktivis, pelajar hingga mahasiswa. Ketika panitia menyiapkan lokasi satu jam sebelum acara dimulai, tempat sudah dipenuhi oleh para peserta.

Acara dimulai dengan lantunan musik yang menggugah semangat dari Tiang GM feat. Boy Pratama. Tak lama berselang, sesi diskusi pun dimulai dengan pemaparan materi dari Muhamad Iksan dari Suara Kebebasan tentang kondisi kebebasan dan toleransi di Indonesia yang kini keadaannya sedang mengkhawatirkan. Pemaparan selanjutnya disajikan oleh Neng Mayang, seorang aktivis di bidang literasi dari Semesta Literasi. Beliau memaparkan secara santai mengenai pentingnya literasi dalam membangun budaya toleransi di Indonesia. Lalu, Fadly Noor M. Azizi menyambung dengan memaparkan materi seputar gerakan muda untuk mengembangkan ide-ide toleransi di media sosial. Bagaimana melawan paham-paham radikalisme dengan menebarkan cinta dan kasih di media sosial, bukan memusuhi dengan rasa benci. Sehingga paham-paham toleransi dapat diterima dengan baik oleh masyarakat laus sebagai paham yang menyejukan.

Situasi diskusi menjadi meriah ketika banyak pertanyaan dan tanggapan yang diutarakan oleh para peserta. Acara semakin meriah dengan dimoderatori oleh Adis Puji Astuti yang dikenal sebagai aktivis perempuan. Dengan gaya moderator yang baik dan atraktif, diskusi semakin meriah dengan dialog interaktif dengan para peserta. Ada sekitar 10 pertanyaan dan pendapat yang dilontarkan oleh para peserta membuktikan begitu antusiasnya para peserta dengan tema diskusi yang dibawakan pada hari itu.

Dari dialog-dialog tersebut seluruh peserta dan pemateri dapat disimpulkan bahwa kita sebagai generasi muda harus paham bahwa bahaya paham radikal telah menyusup ke berbagai lini masyarakat. Pengaruhnya hingga masuk ke dalam lembaga pendidikan melalui ekstrakulikuler, organisasi ekstra hingga media sosial. Generasi muda yang bimbang akan jati diri menjadi sasaran utama bagi kelompok radikal dalam mengembangkan paham-paham kekerasannya. Sebagai generasi muda yang peduli akan bahaya paham radikalisme agama tersebut harus bersatu dan ikut bergerak di berbagai lini termasuk pendidikan untuk memberikan berbagai konter-narasi dan menyadarkan generasi muda lainnya bahwa paham radikalisme agama hanya menghancurkan kehidupan masyarakat yang damai. Paham toleransi harus selalu digemakan agar Indonesia tetap dengan kebinekaannya, bukan permusuhan.

Bila tidak dibatasi oleh waktu, sepertinya diskusi akan berlanjut sampai larut malam. Acara ditutup dengan pembagian buku bagi penanya terpilih dan foto bersama. Tidak lupa juga, selama berlangsungnya acara konten-kontennya disiarkan langsung melalui media sosial Liberty Studies, Forum MBB, dan Semesta Literasi.

Comments