Forum MBB
By: Forum MBB
June 6, 2017

Poster Suara Pojok Kampus: Your Body, Your Authority!

Dengan beragam identitas suku dan etnis, dahulu Indonesia disatukan dengan rasa ketertindasan atas penjajahan kolonial Belanda hingga dipertemukan dalam demokrasi sebagai acuan hidup bernegara. Sistem yang sampai sekarang dipercaya mampu mewadahi keragaman identitas warga negara Indonesia. Sebagai salah satu negara dunia ketiga, Indonesia dianggap masih menjalani proses menuju negara yang demokratis secara utuh.

Perjalanan transisi demokrasi pasca reformasi hingga konsolidasi politik di Indonesia telah usai. Namun, berbagai gejolak politik hingga konflik sosial tak jarang masih mewarnai proses demokratisasi di Indonesia, salah satunya kekerasan yang berbasis pada identitas seperti etnis, suku keyakinan, bahkan gender dan orientasi seksual. Perilaku berbagai kelompok masyarakat yang terus menanamkan kebencian dalam perbedaan tersebut masih menjadi ancaman di kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Fenomena tersebut dapat dilihat dari survei yang telah dilakukan oleh Wahid Foundation yang menggambarkan bahwa 59,9% warga Indonesia memiliki kelompok identitas yang dibenci. Kelompok yang dibenci tersebut meliputi mereka yang berlatarbelakang agama non-muslim, Tionghoa, dan lain-lain.

Kini banyak peristiwa yang patut kita telaah telah ‘memenjarakan’ kebebasan individu kita sebagai manusia. Tidak lepas dari stigma, kelompok muda LGBT di Indonesia juga menjadi kelompok yang rentan mendapatkan kekerasan. LSM Arus Pelangi menemukan bahwa nyaris 90% kaum LGBT di Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar mengalami kekerasan dan diskriminasi. Sebagai bagian dari kelompok yang rentan tersebut, banyak kaum muda LGBT mendapatkan berbagai tindakan bullying dan juga mengalami pengusiran dari rumah saat keluarga mereka mengetahui orientasi dan identitas seksual mereka. Ini mengakibatkan banyak dari anak muda LGBT rentan menjadi tuna wisma.

Tak hanya di masyarakat, intoleransi dan anti-keragaman juga banyak terkandung dalam peraturan dan perundang-undangan yang ada. Seperti UU Pornografi yang selain mengancam hak perempuan, produk hukum ini juga telah ‘mengebiri’ kearifan lokal dengan memberikan stigma ‘tidak senonoh’ pada pakaian adat tradisional. Di ranah beragama dan berkeyakinan juga terdapat UU Penodaan & Penistaan Agama serta SKB 3 Menteri terkait Ahmadiyah & Gafatar yang mengancam hak warga negaranya untuk memeluk keyakinan yang dipercayai. Belum lagi RUU Larangan Minuman Beralkohol yang masih dibahas telah mengancam keberadaan beragam minuman berfermentasi lokal yang telah ada sejak dahulu kala hingga para petani tradisional pun berpotensi kehilangan pekerjaannya.

Apapun yang ada di tubuh kita dan setiap apa yang melekat di dalamnya seperti identitas, orientasi seksual, dan keyakinan haruslah dihormati sebagai wujud toleransi dan penghargaan terhadap kebebasan individu untuk memilih menjadi diri sendiri. Tidak ada yang dapat membatasi menjadi siapa kita dan bagaimana kita memperlakukan tubuh kita sendiri. Karena kebebasan individu merupakan sesuatu yang sifatnya hakiki pada setiap manusia. Selama tidak mengurangi kebebasan individu lain, maka kita memiliki otoritas yang seluas-luasnya untuk mengeksplor diri.

Ide toleransi dan kebebasan individu telah lama digaungkan di Indonesia untuk mengingat bahwa masyarakat kita merupakan satuan dari beragam individu yang berbeda identitas yang harus saling menghormati. Namun, tidak kalah dengan penyebaran ide toleransi dan kebebasan individu, paham-paham radikal dan kekerasan yang anti-keragaman juga terus merajalela. Lalu, tugas kita sekarang untuk bersama-sama melawan paham-paham tersebut yang menimbulkan perpecahan di masyarakat dengan terus mengkampanyekan ide-ide toleransi, kebebasan individu dan kebinekaan di tengah-tengah masyarakat demi membangun negeri yang lebih demokratis dan damai.

PENYELENGGARA

1. Forum Muda Berbuat Bertanggung Jawab
2. Liberty Studies

DESKRIPSI DAN WAKTU ACARA

Ini merupakan acara ke-6 sekaligus penutup dari program tur diskusi dan pagelaran musik Suara Pojok Kampus. Diskusi kali ini berjudul Suara Pojok Kampus “Your Body, Your Authority!” yang membahas seputar isu penghormatan atas identitas diri dan perdamaian. Acara ini akan dilaksanakan pada :

Tanggal: Jumat, 9 Juni 2017
Tempat: What’s Up Cafe, Jl. Ir. H. Juanda No.18 C, RW.2, Cireundeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.
Waktu: 15:00-17:30 WIB

PROFIL PEMATERI

Naila Fitria
Merupakan salah satu mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Naila juga merupakan penggiat di isu toleransi dan kesetaraan gender. Pernah bekerja sebagai relawan di Komnas Perempuan, sekarang Naila menjabat sebagai Sekretaris Umum Pengurus Besar KOHATI, Himpunan Mahasiswa Islam.

Adis Puji Astuti
Merupakan sarjana program studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Adis juga merupakan salah satu penulis di geotimes.co.id dan pernah bekerja di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Aktif di berbagai pergerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.

PROFIL MODERATOR

Batulizzakia
Merupakan mahasiswi Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra. Batul juga merupakan salah satu anggota aktif Liberty Studies.

GRATIS MENU MAKANAN BERBUKA PUASA!

Bagi 50 orang pendaftar online pertama akan mendapatkan menu berbuka puasa gratis! Silahkan daftar di sini

Acara ini diselenggarakan secara TERBUKA DAN GRATIS!

Comments