Forum MBB
By: Forum MBB
January 4, 2017

Nasionalisme, Spirit Ke-Bhineka Tunggal Ika-An

KOTA, LINTASINSPIRASI.COM – Terbentuknya NKRI diawali dengan kesadaran nasional akan persatuan dan kesatuan bangsa. Kesadaran akan satu kesatuan kebangsaan Indonesia berawal akan kebersamaan senasib dan sepenaggungan sebagai bangsa yang terjajah. Seluruh wilayah di Nusantara ini sama-sama menderita selama lebih dari 350 tahun lamanya di jajah oleh kolonial Belanda. Penderitaan ini mendorong rakyat diberbagai daerah untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan, walaupun rakyat di daerah telah mengorbankan jiwa raga, harta benda untuk mengusir penjajah, namun berakhir dengan kekalahan.

Lahirnya golongan terpelajar dari berbagai daerah mendorong kesadaran secara nasional untuk mengusir penjajahan. Pergerakan ini mulai nampak kepermukaan sekitar tahun 1908,  semangat persatuan sebagai satu kesatuan mulai disadari oleh seluruh rakyat Indonesia. Perjuangan tidak hanya untuk daerah masing-masing, namun untuk kepentingan seluruh daerah dan rakyat Indonesia.

Menyadari akan keberagaman suku, ras, agama, golongan yang ada di Indonesia maka oleh para pendiri bangsa, diambilah kata “Bhinneka Tunggal Ika” dari kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada Abad XIV pada masa kerajaan Majapahit. Secara harfiah mengandung arti bhinneka (beragam), tunggal (satu), ika (itu) yaitu beragam satu itu. Maksudnya adalah agar semua suku, agama, ras, golongan yang ada di Republik Indonesia walaupun berbeda harus harmonis bersatu dalam melawan segala bentuk penindasan terhadap bangsa Indonesia demi cita-cita bersama yaitu kemerdekaan Indonesia.

Bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan NKRI sejatinya sudah berabad-abad hidup dalam kebersamaan dengan keberagaman dan perbedaan. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat istiadat, agama, dan berbagai perbedaan lainnya. Sejarah mencatat bahwa seluruh anak bangsa yang berasal dari berbagai macam perbedaan terlibat dalam meneperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semua ikut berjuang dengam mengambil peran masing-masing. Ke-bhineka-an adalah realitas sosial sedangkan ke-tunggal-ika-an adalah sebuah cita-cita kebangsaan.

Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan negara Indonesia sebagai dasar mewujudkan persatuan dan kesatuan dengan cara saling menghargai antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan. Jika tanpa kesadaran sikap untuk menjaga Bhineka Tunggal Ika maka pastinya akan terjadi kekacauan didalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena semua orang hanya mementingkan diri sendiri, atau daerahnya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan bersama. Bila hal tersebut terjadi maka akan berpotensi memecah belah negara ini.

Islam adalah salah satu unsur yang paling penting dalam Bhineka Tunggal Ika, sebab Islam adalah agama mayoritas penduduk yang peluk oleh masyarakat Indonesia, selain itu pula Islam di Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Sangir Talaud hingga Pulau Rote. Islam adalah agama yang dianut oleh hampir seluruh (tentunya dengan jumlah yang berbeda-beda) suku yang ada di NKRI. Bukan sampai disitu saja, bahkan Indonesia adalah negara dengan ummat Islam terbesar didunia.

Setelah sekian lamanya kita tenang hidup dalam toleransi, harmoni dalam perbedaan, ummat Islam diam-diam ditikam dari belakang, bilangnya satu dalam perbedaan tapi di belakang punggung menciptakan pecahan-pecahan, menanam perilaku menimbulkan amarah, kebencian, permusuhan, dan dendam. Ummat Islam sudah paripurna menerima pancasila sebagai dasar hidup bernegara di Indonesia tapi diam-diam ummat Islam digrogoti dari belakang, pergerakan-pergerakannya sangat taktis dan strategis dari upaya mengkerdilkan Islam dipenduduk kampung-kampung hingga pemerintahan nasional, dengan rencana dan time line yang seksama, sangat kentara, bahkan terang-terangan dengan arogansi dan keculasan. Ketidak berbudayaan dalam memimpin, keji ucapannya, brutal tindakannya, aura dan nuansa kebenciannya kepada ummat Islam.

Bahkan ummat muslim dicuci otaknya secara nasional untuk mempercayai bahwa demokrasi tetap gagal selama pemimpinnya mayoritas. Ummat muslim disesatkan dengan cara berfikir demokrasi akan sempurna jika pucuk pimpinannya adalah kaum minoritas, kalau mayoritas berkuasa itu artinya diktator dan intoleransi. Jika ummat Islam diinjak, kalau bereaksi maka dituduh radikal dan anarkis. Memanfaatkan, memuslihatkan tujuannya dibalik ke-Bhineka Tunggal ika-an yang seharusnya saling menghormati suku, agama, ras dan golongan serta menyayangi yang lemah.

Ummat Islam dengan segala ketidakberdayaannya sudah bekali-kali membisikan ketelinga para penindas manusia dan penganiaya nilai-nilai hakiki Tuhan yang hari ini sedang berbuat adigang-adigung-adiguna di tanah air Indonesia. “Tolong dipikir kembali, agar tidak menyesal dikemudian hari.”

Marilah kita kelola perbedaan kita dalam Bhineka Tunggal Ika yang baik agar menjadi sumber cahaya. Ummat Islam setia kepada NKRI, ummat Islam sedih dengan permusuhan yang dibuat, ummat Islam menikmati persaudaraan dengan sesama makhluk tuhan, dan ummat Islam tidak bahagia “harus bersiap untuk kemungkinan lainnya.”

Penulis: Nasrul Pradana

Editor: Nur Cahyono

__________________________________________________________________________________

Artikel ini dipinjampakai dari Lintasinspirasi.com

Gambar Featured Image di atas dipinjampakai dari sini

Comments