Arman Dhani
By: Arman Dhani
November 18, 2016

Menghentikan Siklus Kebencian

Hari ini bocah perempuan berusia 2,5 tahun itu meninggal dunia. Separuh tubuhnya terbakar. Kamu tahu? Saat minyak mendidih menyentuh kulitmu, kamu akan merasakan sakit luar biasa. Kini bayangkan, api menjilat separuh tubuhmu, membuat kulitmu matang. Lantas bayangkan lagi, penderitaan itu mesti dirasakan seorang anak-anak. Pelakunya tak jelas siapa. Beberapa sumir berkata ia adalah pejuang tuhan. Membakar untuk menegakkan agama. Yang lain menuduh ia adalah intelejen, dikirim untuk memecah persatuan. Tapi yang jelas seorang ibu kehilangan anak dan duka tak akan berhenti sampai di sini.

 Beberapa menyebut kematian bocah korban bom molotov di Samarinda itu sia-sia. Ini sekedar permainan intelejen katanya. Untuk mengalihkan perhatian. Entah perhatian dari mana. Kita ingat dulu ada orang yang merasa orang kafir lebih baik bunuh diri saja, toh percuma hidup lama karena ujungnya neraka juga. Tapi siapa yang berhak menentukan seseorang masuk surga atau tidak? Mereka ini mengaku membela agama, tapi gemar menyebarkan permusuhan. Beberapa orang menyerukan kebencian sambil malu-malu menolak disebut jagal.

 Jika ada yang bersorak atas kematian anak-anak dan menganggap pembunuhan ini sebagai tindakan jihad mereka patut dikasihani. Ia tak layak dibenci, kebencian butuh alasan. Sementara kepada mahluk yang tega menyakiti serta membunuh manusia yang tak bersalah, kita hanya patut kasian. Barangkali seumur hidup ia tak pernah mengerti apa itu kemanusiaan dan cinta kasih. Nabi Muhammad pernah bertemu dengan orang yang sama sekali tak pernah mencium anaknya. Kepada orang yg tak pernah menciumi anaknya, Nabi berkata “Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu.”

 Pram bilang, kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana. Tapi kita tahu, tidak semua orang punya perasaan dan tak semua orang berfikiran waras. Ada yang gemar memamah konspirasi ada yang gemar mengunyah kebencian.

 Kepada para pendukung dan pemuja jagal seperti ini, barangkali kita hanya perlu mendoakan. Semoga anaknya, keponakannya, atau keluarganya yang masih anak-anak tak mengalami hal serupa. Saya menolak membenci, saya marah, tapi saya tak mau menari di nada gendang orang lain. Siklus kebencian mesti dihentikan.

 Tahun lalu saya menulis tentang bagaimana kita mesti berhenti minta maaf dan membela pelaku kejahatan kemanusiaan yang menggunakan label agama. Saya percaya perdebatan macam ini melelahkan. Saya selalu percaya Islam adalah sebuah ajaran yang multi tafsir. Ia tidak monolit, ada berbagai mazhab yang bisa kita gunakan untuk membaca ajaran agama ini. Seperti juga Idiologi, Islam juga bisa jadi damai atau kejam tergantung kepada siapa yang menerjemahkan ajaran itu. Bagasi kepala tiap-tiap manusia tentu berbeda, saya sebagai umat islam mengakui itu, pertanyaannya kemudian bagaimana dengan yang lain?

 Setahun lalu pada hari Jum’at 13 Nopember ISIS menyerang dan membunuh lebih dari 100 nyawa di Paris Prancis. Para pendukungnya bersuka cita, para pemujanya menyebut penjagal itu sebagai mujahidin. Meski akhirnya para pembunuh itu mati bunuh diri dengan beberapa meledakkan diri, perdebatan mulai muncul. Apakah pelaku kejahatan itu adalah muslim atau tidak? Dan apakah islam mengajarkan kekerasan? Lantas bagaimana sikap umat muslim dalam hal ini?

 Saya percaya islam adalah ajaran yang damai. Kitab suci kita memiliki banyak kata damai seperti cintailah, sayangilah dan sejenisnya. Namun perlu diakui juga banyak memiliki kata negatif seperti perangilah dan bunuhlah.Tafsir, saya kira, tergantung bagaimana kita memandang sebuah teks dan juga tendensi yang ada dibaliknya. Pertanyaannya bagaimana kita menempatkan ayat yang menyerukan kebencian dan bagaimana menyerukan kebaikan?

 Orang asing akan melihat bahwa ajaran islam ambivalen dan tak jelas. Di satu sisi menyerukan membunuh di sisi lain menyerukan perdamaian. Mana yang mesti dipilih? Bagi orang yang toleran dan damai ia akan mencari seribu alasan untuk perdamaian dan menyingkirkan ayat-ayat negatif, sementara bagi yang memang memiliki kebencian, ia akan mencari satu saja pembenaran dan menihilkan seribu alasan kebaikan untuk menjustifikasi kekerasan.

 Genosida Nazi tidak dimulai dengan cara membuat ruangan gas dan kamp konsentrasi. Tapi dimulai dengan seruan membenci satu jenis ras. Kebencian terhadap yang berbeda, yang kafir, yang bukan satu ras, bukan muncul tiba-tiba. Ada pra kondisi yang membangun kesadaran itu. Kamu bisa mendapatkannya dari tafsir terhadap agama, atau sesederhana kencemburuan ras. Di Indonesia menjadi minoritas bisa dimulai dari ras dan keyakinan. Perbedaan ini dipelihara bukan sebagai suatu hal yang baik tapi bahan bakar perpecahan.

 Kekerasan yang dilakukan oleh umat beragama saya kira lahir dari ketidakmampuan membedakan wahyu sebagai kebenaran mutlak dan interpertasi terhadap teks kitab suci sebagai kebenaran yang terbatas. Jika melulu menyalahkan islam sebagai ajaran kebencian dan memisahkan penafsirnya saya kira adalah kebebalan. Islam tidak tunggal dalam hal interpertasi, sebagaimana juga idiologi.

 Kita tahu bahwa ada ayat-ayat yang secara gamblang menyerukan umat islam untuk mengambil senjata dan berperang. Tapi apakah setiap ayat itu mesti dipatuhi secara harfiah? Bukankah dalam islam ada larangan untuk tidak membunuh orang lanjut usia, perempuan, dan anak-anak? Bukan dalam islam ada larangan untuk merusak tempat ibadah umat lain meski dalam perang. Lantas mengapa ada kelompok yang dengan mudah merusak dan menghancurkan rumah ibadah orang lain?

 Sebagai muslim saya percaya belajar sejarah adalah cara untuk memahami konteks sebuah peristiwa. Mengapa umat muslim membunuh bani Qurayza? Mengaa ada pembantaian Imam Husain di Karbala? Atau misalnya di Indonesia Amangkurat I membunuh lebih dari 3000 ulama di Jawa? Kita tak perlu meniru yang buruk, tapi kita belajar darinya. Mengapa peristiwa terjadi dan bagaimana agar tragedi tidak terulang lagi.

 Selama ini agama islam terlalu lama diserahkan kepada orang yang tidak kompeten. Orang-orang yang lebih suka marah daripada bersikap ramah. Saya kira Islam mesti memiliki juru bicara baru. Mereka yang toleran, berkemajuan dan tetap menjaga identitasnya sebagai muslim. Sudah terlalu lama Islam diklaim oleh kelompok intoleran yang buruk hati, penuh permusuhan, dan menggemari kekerasan. Mereka yang menolak kemajuan, menolak ilmu pengetahuan dan asik santai di dalam masa kegelapan.

 Dalam konteks Indonesia, sudah saatnya saya tidak lagi hanya menulis dan menyerukan perdamaian antar mazhab. Mungkin saya perlu menumbuhkan keberanian untuk melawan para penyebar kebencian. Tidak, ia tidak harus dilawan dengan kekerasan fisik, saya kira kita mesti aktif turun dan menyerukan perdamaian kepada orang-orang yang kita labeli radikal. Mengapa? Bukankah sia-sia menyadarkan orang yang sudah sadar? Maka misi baru kita adalah mendekati mereka yang bersikap bermusuhan dan memberikan mereka penyadaran tentang hal-hal baik.

 Sebuah ide tak bisa dibungkam, ia hanya bisa dibuat tidak relevan. Melarang, membubarkan paksa, atau membakar buku tak akan membuat orang berhenti mengikuti ajaran itu. Maka kita perlu melahirkan diskursus baru yang segar. Datangi daerah yang bertikai, temui orang yang bermusuhan, bangun dialog dan kemudian cari tahu apa akar permasalahannya. Deradikalisasi tidak akan selesai dengan dipenjaranya pempimpin teroris. Kita mesti mendekati pengikutnya dan kemudian memberikan mereka alternatif jalan. Bahwa memperjuangkan kemuliaan agama tak harus dengan membunuh anak-anak.

 


Gambar diatas dipinjampakai dari sini

Comments