Rudolf Dethu
By: Rudolf Dethu
March 14, 2016

Video: Mengkaji RUU Pelarangan Minuman Beralkohol

Dua video di sini merangkum pendapat para akademisi dan mahasiswa tentang RUU Pelarangan Minuman Beralkohol yang sedang coba digulirkan oleh DPR.

Kutipan dan kesimpulan ringkas dari para akademisi mengenai RUU Pelarangan Minuman Beralkohol tersebut sbb:

Secara umum mereka semua berpendapat seragam bahwa kebijakan ini diskriminatif, menjegal hak sipil, lemah serta gagal secara akademis, dan kontraproduktif: berniat melindungi tapi malah akan menimbulkan korban lebih banyak akibat kian maraknya oplosan.

RYU HASAN
Neurosurgeon

• Alkohol itu hanya meng-enhance, membuat lebih tajam sifat dasar. Kalau sifat dasarnya kriminal, mabuk, ya kriminal dia. Jadi bukan sifat dasar alkoholnya, tapi sifat dasar orang ini.

• Beberapa kejahatan yang terjadi dan terkait dengan alkohol tak serta merta bisa disimpulkan bahwa penyebabnya adalah gara-gara minum minol. Harus ada riset yang komperehensif.

• Alkohol berbahaya? Air kalau kita minum 8 liter sehari, kita bisa mati juga.

• Semua alkohol mau dilarang? Jangan minum jus kiwi, jus melon, alpukat. Karena semuanya mengandung alkohol.

• Lebih baik diberitahukan seberapa dosis manfaat alkohol, seberapa dosis bahayanya alkohol, bukan dilarang.

• Minum oplosan mati? Itu matinya karena alkohol apa karena yang lain? Fanta dicampur metanol, Aika Aibon, Autan… ya mati. Itu karena yang lain-lainnya, bukan alkoholnya.

GADIS ARIVIA
Pengajar
Universitas Indonesia/Yayasan Jurnal Perempuan

• Rancangan undang undang ini mengutip dari Wikipedia, berdasarkan fatwa MUI, secara naskah akademis itu sudah gugur. Karena regulasi sepenting ini harus berdasarkan riset, harus sangat ketat. Risetnya pun harus tahun berapa, oleh lembaga mana, itu dikejar, harus berkredibilitas.

• RUU minol bukan menyelamatkan dan melindungi generasi bangsa, justru akan menjerumuskan. Ketika dilarang justru ada black market, tidak bisa dikontrol.

• Ini ada hidden agenda untuk mengedepankan agama-agama tertentu. Ini bermasalah. Bagaimana bisa mengeluarkan sebuah kebijakan berdasarkan agama-agama tertentu? Kita adalah negara Pancasila yang majemuk. Menyusun kebijakan harus berdasarkan semua kepentingan.

• Kebijakan ini hendak dikeluarkan karena banyak yang meninggal karena oplosan. Kebijakan ini kalau disahkan justru akan lebih banyak yang meninggal akibat oplosan. Karena fakta mengatakan bahwa masyarakat kita itu minum.

• Ini RUU yang bodoh karena hak warga negara itu harus dihormati. Sejauh mana ia bisa mengatur ruang publik, sejauh mana itu urusan wilayah pribadi masing-masing. Absurd dan irasional, tidak mempedulikan hak-hak individu. Kemerdekaan warga itu harusnya dilindungi oleh negara. Seperti ada kekurangpahaman oleh pembuat kebijakan, di mana batas-batas yang boleh diatur oleh negara.

RAYMOND MICHAEL MENOT
Antropolog
Universitas Indonesia

• Alkohol merusak? Jahat? Jika memang benar, seharusnya kita hari ini tidak ada. Kalau pun kita ada, kita adalah produk-produk generasi yang rusak. Ini kan tidak. Masyarakat kita dari dulu minum alkohol, bagian dari budaya, telah berjalan ratusan tahun.

• Peraturan yang sekarang ada soal minol sudah cukup, tak perlu ditambah. Yang perlu adalah law enforcement. Misalkan untuk polisi, diberikan alcohol meter untuk mengecek kadar alkohol pegemudi.

• Bangsa Korea dan Jepang itu peminum. Apa itu berarti mereka moralnya jelek? Tidak. Mereka hormat pada orang tua dan gurunya. Negaranya pun maju.

• Karena naskah yang tak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis—diagnosa salah, pengobatan salah, tak akan menyembuhkan apa-apa—pansus sebaiknya distop, dibubarkan saja.

ROFI UDDAROJAT
Peneliti Kebijakan Publik
Center for Indonesian Policy Studies

• Darurat alkohol? Rata-rata minuman yang diminum oleh rata-rata masyarakat Indonesia, menurut statistik WHO, hanya 0,1 liter per tahun. Sangat kecil.

• Kematian itu disebabkan oleh minuman palsu/oplosan. Tak tepat jika alkohol yang dsalahkan.

Prohibition doesn’t work. Pelarangan tidak pernah menyelesaikan masalah, tak pernah berhasil. AS pada tahun 30 pernah memberlakukan pelarangan, gagal total. Pasar gelap justru muncul.

• Permintaan terhadap alkohol walau pasokan dihilangkan, tak akan pernah bisa menghilangkan permintaan yang ada di masyarakat. Karena alkohol tidak ada maka oplosan dijadikan pilihan alternatif.

Unintended consequences. Konsekuensi dari sebuah kebijakan tak bisa dilihat dari dampak yang kasat mata saja. Niatnya melindungi generasi muda dari alkohol, akibat ketiadaan alkohol anak muda malah akan membuat sendiri minuman beralkohol yang membahayakan jiwa mereka.

• Permintaan terhadap minuman beralkohol ini sifatnya riil. Pelarangan tidak cocok. Yang lebih tepat adalah dikontrol, diawasi peredarannya.

• Ide menjual minol hanya boleh di bar-bar dan restoran-restoran, ini diskriminatif. Hanya orang kaya boleh minum, melepas penat, orang miskin terdorong minum oplosan dan tewas. Setiap jenjang di masyarakat semestinya boleh mengakses minuman beralkohol, bukan orang kaya saja.

FADLY NOOR
Aktivis Mahasiswa
Freedom Society

• RUU Minol sangat bertentangan dengan penegakan hak sipil.

• Minum minol tiada korelasi dengan kriminalitas.

• Pelarangan akam memunculkan oplosan yang justru membahayakan.

• Kebijakan publik mesti dipisahkan dengan agama—dalam konteks ini: Islam. Jika dipaksakan akan menjadi diskriminatif sebab penduduk Indonesia tak semuanya Muslim. Negara harusnya melindungi dari mayoritas hingga minoritas.

• Mahasiswa harus lebih pro-aktif, terus meninjau aturan-aturan diskriminatif yang dibuat pemerintah. Jika itu terjadi maka mahasiswa mesti berdemonstrasi, melakukan kampanye kreatif dan bila perlu melaksanakan judicial review.

__________________

• Foto Jokowi sedang bersulang dipinjampakai dari Reuters

Comments