Rudolf Dethu
By: Rudolf Dethu
January 23, 2016

ARAB MAKLUM

Saya membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa saya, Indonesia tercinta.

Bukan pula menyerang negara Arab, khususnya Arab Saudi tempat di mana saya berdomisili saat ini.

Tujuan tulisan singkat saya ini untuk membangunkan teman-teman, kakak, dan adik-adik saya dan sesama saudara warga negara Indonesia di mana saja berada.

Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa dijadikan panutan/pedoman, serta mana pula yang harus diwaspadai.

Harapan saya hanya satu:
Semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa ini—termasuk saya—tidak menjadi bangsa yang inferior (rendah diri), tidak mudah kagum, dan tidak mudah menjadi beo.

Begini, saya melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya yang pro-Arab) itu unik, menarik, dan lucu.

Negara-negara Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas-jelas pro-Amerika (dan Inggris).

Hampir semua produk-produk Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast foods) sampai yang berkelas & bermerek untuk kalangan berduit, semua ada di kawasan ini.

Mall-mall megah dibangun, a.l., untuk menampung produk2 Barat tadi.

Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping (bahkan terkadang lalai dengan sembahyang).

Orang-orang Barat juga mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya yang bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah).

Mayoritas orang-orang Arab juga sangat hormat & inferior (rendah diri) terhadap orang-orang Barat.

Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule”-ku ke tempat pameran barang-barang branded tersebut, dan mereka menganggap saya adalah “jongosnya”.

Bagi orang-orang Arab, non-bule darimana pun asalnya apapun agama mereka adalah “Kelas Buruh”, sementara orang bule, sekere & sebego apapun mereka, beragama atau tidak beragama, dianggap “Kelas Elit”.

Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.

Sejumlah universitas-universitas beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk, selain Saudi, (Georgetown, New York Univ, Texas A & M, Carnegie Melon Univ, dll).

Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat, khususnya Amerika, Kanada & Eropa (juga Aussie).

Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia! Sementara (sebagian) warga Indo memimpikan belajar di Arab Saudi.

Lucunya, para fans/penyembah Arab Saudi dan Arab-Arab lainnya di Indonesia, mereka mati-matian men-tuan-kan Arab, sementara Arab sendiri tidak “menggubris” mereka (penyembah Arab).

Para “cheerleaders/pengidola” Arab ini (para fans Arab di Indonesia), juga mati-matian anti-Barat padahal orang-orang Arab mati-matian membela Barat.

Kita bertutur memakai istilah bahasa mereka (akhi, ukhty, antum, dan berbagai istilah Arab lainnya, padahal, mereka merendahkan kita). Kita seolah gagal faham untuk membedakan antara Islam dan Arab.
Islam menghargai kita sedangkan Arab menganggap kita ini bangsa budak.

Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman-teman baikku banyak sekali dari “dua dunia” ini.

Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya yang tetap orang kampungan Jawa.

Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, akan lebih baik jika kita menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan tradisi & kebudayaan leluhur kita.

Itulah orang Saudi, mereka menganggap kecil terhadap orang Indonesia, di hotel, di kantor, bahkan mereka menyangka saya cuma tenaga profesional ecek ecek, mereka tanya gaji, disangka CUMA 2 ribu atau 3 ribu Real. (1 real = 3700)

Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama dengan orang Amerika atau Inggris, dan mereka tanya kok bisa begitu.

Saya bilang, saya pernah training di Inggris dan di Amerika, dan ternyata gaji saya lebih besar dari gaji dokter Saudi.

Itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan di Abu Dhabi yang tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau nationality profiling.

Mudah mudahan pemerintah tidak mengirim lagi TKI atau TKW sehingga mereka tidak menganggap orang Indonesia bangsa budak.

Tetapi kirim tenaga terdidik, terutama yang menguasai bahasa Inggris.

Sumanto Al Qurtuby

Sumanto Al Qurtuby

Sekali lagi:
Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat saya cuma orang Jawa – Indonesia yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga ahli yang dibayar berdasarkan keahliannya.

Suatu hari, dan ini bukan untuk menyombongkan diri, saya merasa bangga ketika saya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, saya dijemput oleh sopir orang Arab berasal dari Thaif. Itu kebanggaan saya, karena biasanya yang jadi sopir itu orang Indonesia.

Mudah-mudahan kita tidak jadi bangsa budak dan budak di antara bangsa lain.

Belum lama ini saya mengadakan survei dengan responden para mahasiswaku (sekitar 100 mahasiswa) yang mayoritas beretnik Arab & Saudi. Survei ini bersifat “confidential” dan identitas mahasiswa tidak diketahui. Salah satu pertanyaan dalam survei adalah: “Agar lebih Islami, apakah masyarakat Muslim non-Arab harus meniru & mencontoh masyarakat Arab & menjalankan kebudayaan mereka?” Jawaban mereka, sekitar 60% bilang “tidak”, 12% bilang “ya”, selebihnya “mungkin” & “tidak tahu”.

Saya tidak tahu secara pasti apakah jawaban mereka itu ada kaitannya dengan “doktrin-doktrin” pentingnya menghargai pluralitas budaya, agama, & masyarakat yang selama ini saya “ajarkan” di kelas atau mungkin karena pengaruh pendidikan yang semakin meningkat atau gelombang modernisasi & “internetisasi” yang mewabah di kawasan Arab.

Apapun faktor-faktornya yang jelas hasil survei ini “sedikit menggembirakan” (setidaknya buatku), meskipun masih banyak tantangan cukup besar menghadang di depan mata. Bukan suatu hal yang mustahal jika kelak kaum Muslim Arab & Saudi khususnya bisa menjadi lebih maju, terbuka, dan toleran. Dan bukan suatu hal yang mustahal pula jika kelak kaum Muslim Indonesia justru “nyungsep” menjadi umat yang bebal, tertutup, dan intoleran.

Di saat masyarakat Arab mulai lelah dengan konflik & kekerasan serta mulai menyadari pentingnya keragaman & hidup bertoleransi, sejumlah kaum Muslim di Indonesia justru menjadi umat intoleran dan anti-kemajemukan…

Tulisan ini dipinjampakai dari Facebook page Revolusi Indonesia yang juga mengutip dari akun Facebook Sumanto Al Qurtuby, seorang professor Warga Negara Indonesia, dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.
Foto di halaman depan dipinjampakai dari www.northcountrypublicradio.org

Comments