Rudolf Dethu
By: Rudolf Dethu
December 8, 2015

MASJID & GEREJA HIDUP BERDAMPINGAN: INDAHNYA TOLERANSI DI NKRI

Tulisan berikut dipinjampakai dari situs web Hipwee. Topiknya amat berkaitan dengan semangat kebinekaan MBB, bahwa walau kerap terjadi kerusuhan rasial—paling mutakhir terjadi di Tolikara, Papua—namun sejatinya penghargaan kepada keberagaman masihlah kuat. Pun telah terlaksanakan dengan baik di lapangan sejak dulu.

Silakan simak artikelnya.

____________

Peristiwa mengusik kedamaian terjadi tepat saat hari Lebaran lalu. Kerusuhan dengan unsur perbedaan agama terjadi di Tolikara, Papua. Tentu pertikaian tersebut sempat membuat masyarakat terprovokasi dan lagi-lagi isu perbedaan menjadi bahan untuk saling menghujat. Walaupun setelah itu perwakilan dari kedua belah pihak yang berseteru telah melakukan berbincangan, saling meminta maaf, dan berdamai, isu perbedaan dalam kasus Tolikara tersebut masih menjadi buah bibir yang seksi di masyarakat.

Sampai sekarang.

Padahal, di luar kejadian Tolikara, ada banyak lho bentuk toleransi antar umat beragama yang lebih seru untuk diangkat. Seperti masjid dan gereja yang telah cukup lama berdiri berdampingan dan saling menjaga tempat ibadah satu sama lain.

Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien di Tanjung Priok yang letaknya persis bersebelahan. | Foto: beritasatu.com

Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien di Tanjung Priok yang letaknya persis bersebelahan. | Foto: beritasatu.com

Terletak di kawasan Tanjung Priok, Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Mahanaim ini telah berdiri berdempetan selama kurang lebih 50 tahun. Pada jam 6 sore, bunyi lonceng gereja akan terdengar dan tak lama disusul dengan kumandang adzan maghrib dari masjid. Masjid dan gereja ini konon didirikan oleh pelaut beragama islam dan kristen yang singgah ke Tanjung Priok.

Letaknya yang berhimpitan tersebut tak membuat pengelola masjid maupun gereja merasa terganggu. Bahkan, ketika ada perayaan keagamaan besar salah satunya membantu menjaga keamaan. Pada saat ada kebaktian Natal, misalnya, pemuda masjid tersebut turut menjaga. Sebaliknya, pada saat menggelar sholat Ied para pemuda gereja yang bergiliran membantu. Gereja juga pernah membatalkan kebaktian hari Minggu karena tahun itu sholat Ied juga jatuh pada hari Minggu. Supaya umat Muslim yang akan ikut sholat Ied bisa mendapat tempat untuk sembahyang, pengurus gereja menunda pelaksanaan kebaktian hari Minggu.

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al Hikmah di Solo berbagi satu alamat surat. | Foto: Hipwee

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al Hikmah di Solo berbagi satu alamat surat. | Foto: Hipwee

Kamu yang tinggal ke Solo atau pernah berkunjung ke Solo mungkin akan melintas di Jalan Gatot Subroto. Kamu akan melihat bangunan gereja dan masjid yang bersebelahan. Menariknya, masjid dan gereja tersebut tak hanya sekedar berjejer tapi juga memiliki alamat yang sama. Baik gereja maupun masjid beralamat di Jalan Gatot Subroto 222, Surakarta. Sekilas memang tidak mungkin, tapi begitulah kenyataannya. Di masjid dan gereja tersebut terdapat sebuat prasasti yang merupakan simbol toleransi. Prasasti tersebut dimaksudkan agar warga gereja dan masjid selalu menjaga kerukunan satu sama lain. Hal itu pun dilakukan secara nyata. Ketika bulan puasa, misalnya, gereja tersebut juga menyiapkan santapan berbuka puasa untuk jemaah masjid yang datang.

Selama 17 tahun, Gereja Kristus Yesus berdiri berdampingan dengan Masjid Awwabin. bersebelahan dengan masjid. | Foto: Hipwee

Selama 17 tahun, Gereja Kristus Yesus berdiri berdampingan dengan Masjid Awwabin.
bersebelahan dengan masjid. | Foto: Hipwee

Selama kurang lebih tujuh belas tahun, Gereja Kristus Yesus ini hidup berdampingan dengan Masjid Awwabin di Sepatan, Tangerang, Jawa Barat. Selama itu pula, mereka selalu hidup dengan harmonis. Saling berkomunikasi rupanya menjadi kunci utama kedua tempat ibadah tersebut untuk menjaga kerukunan. Pada saat ibadat Jumat Agung misalnya, bertepatan dengan sholat Jumat di Masjid. Pihak masjid pun memahami dan berusaha tidak memasang speaker keras-keras. Begitu pula dengan pihak pengelola gereja, selalu berkomunikasi terlebih dahulu kepada pengurus masjid ketika hendak membunyikan lonceng atau membuat kegiatan. Harmoni keduanya juga ditunjukkan dengan cara yang luar biasa. Kedua pengurus tempat ibadah tersebut kerap membuat kegiatan sosial bersamaan seperti donor darah, kerja bakti, dan lain sebagainya.

Di Malang, jemaah Masjid Jami sholat Ied di depan jalanGereja Kristen dan Gereja Katolik dan itu biasa-biasa saja. | Foto: Hipwee

Di Malang, jemaah Masjid Jami sholat Ied di depan jalanGereja Kristen dan Gereja Katolik dan itu biasa-biasa saja. | Foto: Hipwee

Masjid Jami merupakan masjid yang terletak di pusat kota Malang, tepatnya berada di sekitar Alun-Alun Kota Malang. Letaknya yang berada di jantung kota membuat masjid ini menjadi pusat rujukan orang Malang yang ingin menunaikan sholat di masjid. Saat lebaran, masjid ini tentu ramai dikunjungi jemaah yang ingin menunaikan ibadah sholat Ied. Setiap tahun, jemaah yang datang meluber hingga jalanan sekitar masjid tersebut. Yang menarik, masjid tersebut berdekatan dengan dua gereja. Satunya gereja Kristen yang letaknya hanya selisih dua bangunan. Satunya lagi, gereja Katolik yang letaknya sekitar 200 meter dari masjid tersebut.

Lebaran tahun ini, jemaah yang datang untuk sholat Ied di Masjid Jami tersebut cukup banyak. Untuk menampung jemaah yang akan melakukan sholat Ied, pihak gereja Katolik pun membuka halamannya agar bisa digunakan sholat Ied.

Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta juga letaknya berdekatan. Indahnya keberagaman. | Foto: Hipwee

Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta juga letaknya berdekatan. Indahnya keberagaman. | Foto: Hipwee

Tanpa disadari, Masjid Istiqlal di Jakarta yang kerap menjadi tempat beribadah presiden dan para aparat negara ini dibangun tak jauh dari Gereja Katedral Jakarta. Masjid Istiqal menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara, sementara Gereja Katedral merupakan gereja peninggalan Belanda yang juga besar dan megah, bergaya Gothik ala Eropa. Rupanya, Presiden Republik Indonesia Pertama, Soekarno, memang telah mendesain kedua tempat ibadah ini agar dapat menjadi contoh tauladan keharmonisan umat beragama di Indonesia.

Ternyata di antara kabar buruk tentang keharmonisan antar umat beragama yang seolah tak ada habisnya, ada jauh lebih banyak hal baik yang tentang toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Sayangnya, tak sedikit pula yang lebih suka menggoreng isu anti-toleransi dengan berbagai bumbunya menjadi perdebatan yang tak ada habisnya.

Kalau kamu sendiri, lebih suka berbagi kabar baik atau yang bagaimana?

• Foto di halaman depan diperoleh dari Shuhada Holidays

Comments