Rio Tantomo
By: Rio Tantomo
August 1, 2015

HEY KAFIR, MUSIK ITU HARAM!

Yang lebih parah kalau ada ide-ide yang ingin menggulingkan negara ini menjadi bagian dari Jamaah Islamiyah atau mendirikan Khilafah yang mengubah dasar negara ini dari Pancasila jadi syariah.
• Wendi Putranto

Ketika musik sebagai anak kandung budaya pop digolongkan ke dalam kegiatan terlarang oleh sebuah majelis taklim yang menamakan dirinya The Strangers Al Ghuroba, banyak orang kemudian merasa gusar dan mempertanyakan keabsahannya. Terutama ketika hal itu justru dilontarkan oleh orang-orang yang sebagian besar waktu hidupnya pernah diabdikan dengan mengimani musik sebagai mata pencaharian; mereka pernah begitu tergantung, berbahagia dan diselamatkan oleh musik. Kini melalui penggalian dan pendalaman terhadap agama beserta sejumlah tafsir dalilnya, sebuah palu telah dijatuhkan dari lidah seorang manusia yang menganggap dirinya sebagai budak sepenuhnya dari raja bernama Tuhan, bahwa memainkan juga mendengarkan musik adalah termasuk satu bentuk dosa besar, atau menurut mereka, HARAM, yang disetarakan bersama perzinahan, kain sutera bagi lelaki dan minuman beralkohol. “Alat-alat musik itu adalah bagaikan pemabuk jiwa,” sebut Ahmad Zainuddin, yang dianggap sebagai guru besar oleh The Strangers Al Ghuroba dalam pengajian mereka yang bertajuk “Semua Suka Musik?” pada pertengahan tahun lalu.

Sudut pandang itu tentu saja segera menimbulkan polemik seru tiada tara bagi negara yang mengaku berdemokrasi ini di mana kebebasan berpendapat seharusnya begitu dijunjung tinggi. Yang artinya begitu sebuah pernyataan dilontarkan oleh satu kelompok, halal hukumnya jika kelompok lainnya melancarkan sikap kontra. Dalam hal itu kami mewawancarai Wendi Putranto yang dikenal luas sebagai editor Rolling Stone, media pers musik terbesar di sini dan mencoba mencari tahu opininya mengenai gerakan mengharamkan musik tadi.

Perlu diketahui Wendi pernah menjabat sebagai manajer The Upstairs, gerombolan disko paling punk negeri ini yang dua anggotanya telah termasuk ikut dalam golongan para pemurtad musik kelompok The Strangers Al Ghuroba. Dan juga salah seorang dari penggagas konser Metal Untuk Semua, sebuah pagelaran musik pro pluralisme dan anti terorisme yang diadakan lima tahun lalu di Bulungan, Jakarta.

“Memang di Al Quran sendiri setelah gue baca dan pelajari, tidak ada ayat yang secara tegas menyatakan bahwa musik itu dilarang. Hanya ada hadist saja yang memperkuat bahwa musik ini begini dan begitu,” sebut Wendi. “Bahkan Nabi Muhammad pun masih memperbolehkan rebana jika itu dimainkan ketika Idul Fitri,” lanjutnya lagi.

Dalam mungkin dua tahun terakhir ini terdapat banyak fenomena musisi tobat. Bahkan beberapa diantara mereka malah jadi berbalik mengharamkan musik itu sendiri. Menurut Anda apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Sebenarnya berpaling ke agama dari musik yang dianggap sangat duniawi, atau ketika orang memutuskan untuk lebih tekun beribadah, lebih mendekatkan diri kepada Pencipta-nya, gue melihatnya itu sebagai keputusan yang sepenuhnya pribadi. Tidak ada masalah di situ. Siapa pun boleh melakukan itu karena memang termasuk hak asasi sebagai seorang manusia. Cuma yang membuat gue jadi curiga, skeptis dan sangat penasaran untuk tahu alasan mereka tobat adalah kenapa waktunya bisa hampir berbarengan. Kenapa bisa nyaris semuanya terjadi dalam waktu yang berdekatan. Ini seperti getok tular, dari satu orang mempengaruhi yang lain, kemudian orang yang terpengaruh terakhir juga mencari teman yang lain untuk dipengaruhi. Ini bergeraknya dengan sistem sel.

Jadi mereka saling mempengaruhi, begitu?

Iyalah, menurut gue forum-forum seperti pengajian di Blok M Square, semua yang bisa kita tonton di videonya itu… dakwah kan juga tujuannya untuk mempengaruhi. Gue ingat ceritanya Alfi (Chaniago, pemain bas The Upstairs) ketika memutuskan untuk pindah dari Upstairs, bukan ke band lain, tapi untuk berhenti main musik. Dia bilang dia ketemu dengan teman SMA-nya yang sudah puluhan tahun tidak bertemu, dan sudah berubah sama sekali dengan yang dikenalnya dulu. Ketika pertemuan pertama itu mereka masih dalam batas silaturahmi. Baru setelahnya dia mulai menyuntikkan pemahaman-pemahaman agama kepada Alfi. Momen saat itulah seseorang mulai dipengaruhi secara individual. ‘Apa lo sudah menjalankan kewajiban muslim dengan benar?’, ‘Apa lo sudah solat dengan benar?’, ‘Apa lo sudah memikirkan nanti setelah mati mau jadi apa?’, itu beberapa pertanyaan yang diajukan, dan Alfi ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu, benar-benar terketuk. Tidak lama kemudian dia mengundang anak-anak untuk meeting, menjelaskan bahwa ‘gue akan berhenti main band dan memutuskan untuk belajar agama’.

Sebagai manajer The Upstairs ketika itu apa yang Anda katakan padanya?

Gue bilang, ‘kalau lo mau mendalami agama, itu keputusan individual, tapi gue nggak mau liat lo di Pos Kota jadi ‘pengantin’, karena lo temen gue. Mudah-mudahan ini pengajian yang benar yang membuat lo jadi lebih baik, lebih tenang dan lebih bisa menikmati hidup dalam gaya yang berbeda’. Ya secara nggak langsung gue bilang, ‘lo jangan jadi teroris’ (tersenyum).

Saat itu di The Upstairs pun bukan hanya Alfi yang bertobat tapi juga ada beberapa kru. Apa Alfi juga yang mempengaruhi mereka?

Nggak, sih bukan Alfi. Tapi nggak tahu, ya kalau di belakang gue. Gue juga nggak ngerti gimana awalnya tuh anak-anak pada tobat. Kalau si videografernya Upstairs, dia sempet jatuh dari motor, terus harus dioperasi dengkulnya. Cukup parah. Dan menurut penjelasannya saat itu dia bisa saja mati. Jadi dia mengalami near death experience yang membuatnya, ‘gila berarti gue masih ‘dijagain’ oleh Allah’. Itulah momentum yang membuat dia berpaling dari musik. Setelah itu dia mendonasikan koleksi kaos dan CD-nya ke gue, yang dengan senang hati gue terima (tertawa). Dia juga menghapus semua file musik metal di komputernya. Menurutnya, musik adalah sesuatu yang membuat dia lalai, lupa solat, jauh dari Tuhan. Jadi lebih banyak mudaratnya.

Menurut Anda sendiri kalau dihadapkan pada pernyataan ‘musik lebih banyak membawa mudarat’ itu bagaimana?

Kalau sampai ada orang-orang yang mudarat dan meninggalkan solat, bukan karena musiknya menurut gue. Ya lo aja nggak disiplin beribadah. Jangan dikambinghitamkan ke musiknya. Itu tergantung orangnya juga dalam mencerna musik. Kita dari kecil mendengarkan musik metal yang dibilang sama orang tua sebagai musik setan, yang mana gue sendiri nggak berkembang jadi seorang pemuja setan. Bahwa kemudian ada orang-orang yang, katakanlah seperti musisi black metal yang lebih serius mendalami paganisme atau okultisme atau satanisme, itu pilihan mereka. Kalau menurut gue itu terlalu keseriusan (tertawa). Basically, gue lebih percaya bahwa fungsi nomor satu musik adalah hiburan. Yang kedua, ya baru lo mendapat pencerahan dari musik, lo bahagia, terinspirasi. Ya lo mungkin terlalu serius untuk mendalami musik itu jadi sebuah ideologi, sebuah ajaran, sebuah paham. Dan itu menurut gue, lo lebay.

Mungkin itulah orang-orang lebay yang akhirnya menganggap musik itu haram, seperti yang diproklamirkan oleh The Strangers Al Ghuroba. Apa pendapat Anda mengenai mereka?

Al Ghuroba itu artinya, kan strangers dalam bahasa Arab. Menurut gue ini sekadar pengajian majelis taklim saja, sih, yang tujuannya melakukan pertobatan massal, kayaknya. Dan yang disasar memang anak-anak musik, musisi, penggemar musik yang bisa dibilang punya potensi massa pengikut yang besar. Ada strategi tertentu yang dimainkan di dalam itu. Gue sendiri nggak terlalu paham tujuan akhirnya apa. Apakah hanya sekadar mengajak orang agar lebih rajin beribadah atau menabung pahala buat mendapatkan tangga menuju surga yang mana itu sebenarnya bisa dikasih oleh Led Zeppelin (tersenyum). Jadi, ya hal-hal seperti itu kalau memang sifatnya sebuah pilihan personal, kita harus hargai, hormati. Tapi kalau ternyata dibalik gerakan ini ada sebuah masterplan atau grand design

Seperti agenda Islamisasi atau Arabisasi?

Bukan Islamisasi sih maksudnya. Itu sesuatu yang wajar kalau menurut gue. Itu misionaris kalau dalam format Kristen. Yang lebih parah lagi kalau ada ide-ide yang ingin menggulingkan negara ini menjadi bagian dari Jamaah Islamiyah atau mendirikan Khilafah yang mengubah dasar negara ini dari Pancasila jadi syariah. Seperti itu yang berbahaya buat kebinekaan di Indonesia. Indonesia ketika dulu pertama kali dideklarasikan sudah jelas berasal dari berbagai macam suku bangsa. Jadi kalau mau diseragamkan… itukan namanya penyeragaman, pemaksaan kehendak bahwa negara ini akan dijadikan negara yang berdasarkan teokrasi oleh satu agama tertentu. Itu yang menjadi salah satu ketakutan gue bahwa teman-teman yang berada dalam gerakan ini nantinya terasosiasi atau terkoneksi dengan ISIS, misalnya, atau gerakan terorisme internasional yang memang tujuannya mengubah negara-negara di dunia menjadi bagian dari mereka, Negara Islam bisa dikatakan.

Tapi ada tidak kecenderungan dari mereka untuk menuju ke arah sana?

Gue belum melakukan riset atau penelitian lebih lanjut untuk tahu bahwa gerakan ini memiliki anasir kayak gitu. Cuma menurut gue ini related dengan kehidupan sehari-hari kita. Teman-teman kita yang dari kecil mendengar atau main dan terpengaruh musik, dibesarkan oleh musik, mereka mencari uang dari musik, kok tiba-tiba dalam hitungan sebulan dua bulan tiga bulan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi membenci musik, meninggalkan musik, mengharamkan musik. Itu sesuatu yang mencurigakan. Kok bisa seperti itu? Ada apa sebenarnya ini? Apa yang mereka lakukan terhadap teman-teman gue? Dan sebagai teman yang baik kita sudah sepatutnya untuk curiga. Berjaga-jaga dan waspada, jangan sampai terjadi sesuatu dengan teman-teman kita itu. Kalau memang dia mau jadi ustadz atau ulama, gue nggak ada urusan, nggak punya hak untuk intervensi. Tapi kecenderungannya di masyarakat sekarang, gerakan yang ada itu… ya tiba-tiba ada kiriman bom di mal atau di Ciputat ada penggrebekkan terhadap markas teroris yang diam-diam sudah mengontrak rumah selama tiga bulan. Itu bukan sesuatu yang mustahil. Itu kehidupan sehari-hari lo di Jakarta, selain cari uang dan menghadapi kemacetan adalah ancaman terorisme. Dan bukannya mendiskreditkan, bukannya memberikan stigma yang jelek kepada agama tertentu, tapi yang terjadi, mereka yang melakukan pengeboman, mereka yang dikejar-kejar polisi identik dengan agama Islam. Nah, itu yang kini sedang digeluti oleh teman-teman gue. Ini bisa dibilang phobia, kalau itu akan menjadi sebuah gerakan yang masif karena pelan-pelan jumlah anggotanya bertambah, dan kenapa yang direkrut anak-anak band, karena mereka punya basis massa.

Kalau melihat pergerakan The Strangers Al Ghuroba mereka masih menggunakan unsur-unsur pop dari musik itu sendiri, mulai dari logo, flyer sampai mencantumkan nama-nama eks band para anggotanya.

Itu sebuah varian gerakan yang mereka lakukan dengan menunggangi kebudayaan populer. Itu strategi mereka untuk bisa menembus anak-anak muda, dengan menggunakan logo band atau massa dari band yang sudah ngetop untuk menyebarluaskan ajaran mereka.

TheUpstairs
upstairforeverindie.blogspot.com

Sebenarnya juga dengan menyebut musik haram secara tidak langsung mereka telah menganggap orang yang masih main atau mendengarkan musik sebagai kafir.

Ya memang itu sama saja dengan menunjuk ke muka lo bahwa lo kafir. Ada persamaan bahwa mereka termasuk Kaum Takfiri.

Apa itu Kaum Takfiri?

Kaum yang senang men-judge golongan orang lain sebagai kafir. Jadi gampang mengkafiri orang, ‘Kafir! Kafir! Kafir!’.

Budaya judgemental seperti itu rasanya memang mengakar, ya di masyarakat kita.

Yang gue lihat ya itu, karena bisa dibilang nyaris tidak ada dialog dengan gerakan tersebut. Dengan The Strangers yang dihadapkan bukan berdialog, bukan mengkaji dengan logika tapi lo berhadapan secara langsung, ‘ini wahyu-nya, ini ayat-nya, ini hadist-nya’, gaya hidup dengan pemurnian Islam; kalau lo mendengarkan musik sementara musik nggak diatur dalam Al Quran, ya berarti haram. Melakukan aktifitas haram lo dapat dosa, semakin banyak lo mengoleksi dosa tempat lo bukan di surga.

Yang terakhir dari The Upstairs adalah Beni (Adhiantoro, drummer) juga ikut masuk ke The Strangers Al Ghuroba. Anda sempat berbicara dengan dia?

Beni itu muallaf. Sebelum memutuskan resign dari Upstairs Beni masuk Islam, dan sekitar 2009 dia menikah dengan seorang Muslim. Jadi pertimbangan gue waktu itu kenapa dia masuk Islam supaya bisa menikahi calon istrinya. Dan setelah dia menikah, pacarnya sendiri yang tadinya cukup sekuler dan moderat kemudian mulai pakai jilbab. Pas gue dengar dia keluar dari Upstairs, gue kaget karena Beni adalah nyawa buat Upstairs, dia penyuplai beat. ‘Generatornya Upstairs, nih yang cabut’. Gue sempat tanya langsung kenapa keluar, ‘ya pengen ninggalin aja hal-hal yang mudarat. Biar nggak termasuk golongan orang-orang yang lalai’, katanya gitu. Menurut gue alasan itu keluar dari mulut Beni, cukup ngagetin karena gue tahu hidupnya cuma bisa di musik. Berarti dia meninggalkan mata pencahariannya. Sampai akhirnya gue nemu video di Youtube dia lagi menggergaji gitar. Terus sempat ditanya sama gitarisnya Straight Out, Piping, ‘kenapa gitar yang lo hancurin? Kan lo bukan gitaris. Bakar drum dong’. Masih sayang, katanya (tersenyum).

Bisa tidak dibilang kalau mereka beralih ke agama karena karir musik mandek, begitu-begitu saja dan stagnan?

Ada beberapa teori yang bilang kayak gitu, salah satunya dari Jimi (Multhazam, vokalis The Upstairs, Morfem): orang-orang yang bergabung dengan Strangers adalah mereka yang karirnya jatuh atau kehidupan personalnya lagi terpuruk, ya cuma yang bisa menjawab hanya orang-orang ini. Sayangnya mereka nggak ada yang bisa diwawancara, karena ketika Rolling Stone bikin feature tentang itu mereka nggak mau diwawancara.

Apa alasan mereka tidak mau diwawancara?

Ya mereka tertutup. Nggak ada alasan. Nggak mau aja. Jadi nggak ada verifikasi atau klarifikasi. Intinya nggak mau saja. Makanya cukup kaget ketika ada majalah Jogja, Warning, bisa wawancara Alfi. Menurut gue itu agak ajaib.

Anda sudah baca?

Udah.

Ada jawaban apa dari Alfi yang menarik di sana?

Ya misalnya komentar, ‘Beni tadinya orang yang paling keras menentang mundurnya gue dari Upstairs karena takut gue bergabung dengan teroris, tapi akhirnya orang yang paling keras menentang justru sekarang udah ikut langkah gue’. Menurut gue, ya kita harus tanya sama masing-masing orang itu, apakah lo bergabung dan dipersatukan karena isu yang sama atau digerakkan oleh satu kekuatan yang mungkin lo sendiri juga nggak tahu kekuatan itu eksis dengan alasan menjalankan kepentingan agama.

OFM
eramadina.com

Ok. Kalau dengan gerakan Metal Satu Jari bagaimana?

Berbeda. Karena Metal Satu Jari itu satu organisasi atau komunitas yang justru menggunakan musik metal untuk menyebarluaskan Islam, sementara yang ini (Strangers Al Ghuroba) benar-benar mengharamkan musik, apapun jenisnya yang dihasilkan dari instrumen musik. Sebenarnya Metal Satu Jari nggak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rhoma Irama di tahun 70an.

Dan Anda adalah juga termasuk salah satu penggagas konser Metal Untuk Semua di tahun 2010 yang bertujuan untuk melawan Metal Satu Jari itu.

Ya karena waktu itu juga Metal Satu Jari kita curigai adalah orang-orang yang bersimpati pada teroris, yang memberikan dukungannya kepada gerakan terorisme.

Kenapa sampai timbul kecurigaan seperti itu?

Karena Ombat (vokalis Tengkorak, salah satu gerombolan Metal Satu Jari yang paling disegani) adalah tim pembela Abu Jibril. Dia yang mengepalai tim advokasi terhadap para terduga teroris. Itu sangat masuk akal kalau akhirnya kita curiga. Tengkorak band besar dan memiliki penggemar yang besar. Ombat juga orang yang sangat kharismatik. Dia menggunakan pengaruhnya untuk menggerakkan anak-anak muda. Ya itu cukup membuat kita khawatir karena walaupun di situ dia berdiri secara profesional sebagai tim penasehat hukum, secara nggak langsung pasti ada ikatan emosional. Jadi ketika ada orang-orang yang melakukan aktifitas terorisme tapi tidak dikecam, tidak dikutuk, dan malah dibela, mau nggak mau itu merupakan satu hal yang patut dipertanyakan.

Tapi gaung Metal Satu Jari tampaknya sudah mereda akhir-akhir ini.

Bukan mereda, sih, menurut gue lebih karena ini gerakan yang hangat-hangat tahi ayam. Bahwa kalau mau dibandingkan, Metal Satu Jari akhirnya justru lebih bagus dibandingkan The Strangers.

Karena mereka tidak mengharamkan musik.

Ya. Metal Satu Jari nggak munafik untuk bicara terang-terangan bahwa mereka melakukan ini untuk Tauhid. Satu jari. Tujuannya untuk Allah. Menggunakan musik underground, menggunakan budaya populer untuk melakukan counter opini terhadap isu-isu liberal, atau istilahnya SIPILIS.
(tertawa) Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme.

Nah, itu yang mereka mau lawan. Jadinya mereka tidak mengharamkan musik. Itu semacam gerakan white metal kalau di Amerika, kayak Stryper. Jadi nggak perlu ditakutkan, toh mereka preaching, berdakwah. Bebas. Kita mau beribadah, menyebarluaskan agama, ya bebas. Tapi mereka tidak melakukan aksi-aksi yang vandal.

Jadi Metal Satu Jari sempat melakukan aksi vandal di sini?

Bukan Satu Jari, tapi The Strangers, menurut gue vandal dengan mereka menggergaji gitar, membakar alat-alat musik di dalam videonya dan di hadapan mereka ada anak-anak kecil. Akhirnya anak-anak kecil malah dilibatkan dalam kampanye yang menjijikkan. Seharusnya lo nggak usah ngajak-ngajak anak kecil karena mereka belum tahu apa-apa, jadi jangan diajak untuk membenci. Anak kecil belum bisa berpikir dan belum bisa memutuskan mana benar mana buruk. Dalam video itu ada unsur anak kecil; mereka melakukan pembakaran, penghancuran, penggergajian gitar, itu Beni lagi yang ngelakuin.

Sebagai teman dan bekas manajernya Anda pasti merasa sangat miris.

Iyalah otomatis. Gila, lo jadi orang munafik. Lo mendapatkan penghasilan dari musik, lo bahagia karena musik, lo dapet istri dari musik – itu kan Modern Darlings (sebutan fans The Upstairs) yang dikawininnya.

Kalau mereka menganggap kita sebagai kafir, artinya kita dianggap sebagai musuh.

Nggak, sih. Gue melihatnya mereka tidak memusuhi kita dan tidak mengkafiri kita, tapi mereka mengharamkan musik. Itu sesuatu yang agak berbeda intinya, karena mereka nggak akan mau dianggap mengkafiri orang. Tapi ya memang musik sesuatu yang haram bagi mereka. Lemes (Andri Ashari, bekas vokalis Rumahsakit) sampai bilang, ‘kalau di mal denger musik, alhamdulillah gue tiba-tiba pusing’, ketika diwawancara Jakarta Globe. Itukan bikin kita ketawa bacanya.

Seperti apa masa depan The Strangers Al Ghuroba, jika Anda tadi sempat menyebut sifat gerakan seperti ini sebenarnya hangat-hangat tahi ayam?

Gue, sih melihatnya sesuai pasal 28 (UUD 1945), ‘Kemerdekaan berorganisasi dan berserikat diatur oleh undang-undang’. Sejauh mereka nggak vandal, nggak makar, nggak subversif, dan nggak memaksakan kehendak, nggak ngebom sana sini, ya The Strangers bukan ancaman. Sampai saat ini gue masih melihat sepertinya ada agenda terselubung, yang entah apa isinya. Mudah-mudahan bukan dibuat untuk menyusun kekuatan, untuk menggulingkan pemerintahan yang (dianggap) lalim. Kalau dibilang hangat-hangat tahi ayam, nggak, sih. Bahkan bisa membesar. Cuma gue nggak tahu akan seperti apa episode berikutnya. Atau jangan-jangan malah kita yang terlalu serius sehingga takut pada gerakan ini. Bisa juga mereka cuma bilang, ‘ya kita hanya majelis taklim biasa, ketakutan kalian saja yang berlebihan’. Jadinya seperti phobia.

(tertawa) Ya karena sifat tertutup tadi itu. Ini juga berbeda lagi dengan apa yang dilakukan oleh Irvan Sembiring (bekas gitaris Rotor) dan Sakti (bekas gitaris Sheila On 7) yang tidak sekeras Satu Jari atau The Strangers, dan masih memainkan musik untuk tujuan Tauhid.

Yang gue dengar kabarnya kalau Irvan dan Sakti gerakan mereka berpusat di satu mesjid di Kebun Jeruk, dan biasanya mereka melakukan syiar di luar negeri, seperti di India. Irvan malah sempat merilis album dengan lirik yang berasal dari Al Quran dalam bahasa Inggris. Mereka masih menggunakan musik sebagai medium dakwah. Pionirnya udah ada, Rhoma Irama dengan dangdutnya. Mereka jelas berbeda karena yang membuat The Strangers menarik adalah mereka mengharamkan musik.

Tampaknya mereka mengerti itu, menggunakan musik sebagai strategi pemasaran atau gimmick, dan terbukti berhasil dengan banyaknya orang yang kemudian tertarik melirik majelis taklim ini.

Ya seperti yang gue bilang tadi, dibalik musik dan para mantan musisi ini ada penggemar mereka. Pola gerakan mereka sangat modern, kok. Mereka menggunakan media sosial, flyer, video untuk menyebarkan pemahaman mereka.

Tapi juga menimbulkan skeptisisme, phobia, atau kekesalan tersendiri karena sebenarnya mereka menunggangi budaya populer untuk kemudian menyatakan keharamannya.

Ada sebab dan akibat, ketika orang-orang itu mundur dari band untuk mendalami agama, itu adalah sesuatu yang harus dihargai, tapi ketika mereka mengharamkan musik, itu yang nggak bisa dihargain. Gue nggak bisa terima kalau mereka mengharamkan musik. Contohnya Iyo (vokalis Pure Saturday), ketika Adhi dan Udhi (gitaris dan drummer Pure Saturday) keluar, mereka sebenarnya masih ingin main di satu show terakhir di Ujung Pandang, tapi Iyo bilang, ‘udahlah nggak usah karena kalian udah melihat kita sebagai sesuatu yang haram’. Jadi sesuatu yang sudah kita lakukan sejak puluhan tahun lalu dan kita dapat penghasilan dari situ yang kita bagi ke anak istri di rumah itu dianggap sebagai sesuatu yang haram. Menurut gue statement Iyo sangat kuat. Akan lebih baik mungkin jika tidak mengharamkan musik. Ya udah beragama saja. Itu pilihan masing-masing, dan tidak preaching. Jalanin aja kehidupan lo, pilihan lo, tekunin. Tapi jangan sampai lo menafikan apa yang orang-orang sudah lakukan sepanjang puluhan tahun kalau itu sesuatu yang haram karena mereka mengasih makan ke anak istri dari uang manggung.

Ya karena dengan bersikap mengharamkan musik berarti mereka telah menafikan kehidupan mereka sebelumnya.

Ya bisa dibilang seperti itu. Tapi dibilang munafik pun mereka nggak peduli, karena menurut mereka, ‘sekarang gue udah lebih deket dengan Tuhan, kok’. Makanya dengan bangga mereka menyebut diri dengan ‘The Strangers’, ‘kita adalah kaum yang terpinggirkan – terasing, dianggap sebagai gila’. Menurut mereka orang-orang yang seperti itu di jaman Rasulullah sudah ada, dan Rasulullah saja bisa mengalami tekanan yang seberat ini. ‘Buat kita di jaman sekarang mah ini nggak ada apa-apanya dibanding Rasul dulu’. Sebenarnya yang sangat gue sayangkan adalah mereka sangat eksklusif dan tidak adanya diskusi atau dialog yang logis antara kita dengan mereka. Karena mereka sudah sangat percaya dengan kebenaran Al Quran, jadi omongan kita nggak ada apa-apanya dengan kebenaran hakiki yang ada di dalam Al Quran.

Yang akhirnya malah menimbulkan asumsi kecurigaan.

Walaupun kita dianggap phobia atau skeptis dan dianggap berlebihan dalam menyikapi fenomena ini, tapi kesimpulannya adalah gerakan ini adalah gerakan yang sangat mencurigakan. Karena mereka sangat tertutup. Kalau saja mereka bisa membuktikan bahwa ini hanya sekadar gerakan religius tanpa ada motif politik di belakangnya. Intinya, daripada lo pusing-pusing menyalahkan musik melalui kampanye video mereka, ya mendingan lo fokus cari pahala. Buat gue, kok ini kayak mencari konflik yang sebenarnya nggak perlu.

RIO TANTOMO
Penulis

Comments