Arman Dhani
By: Arman Dhani
July 30, 2015

KOPI SUSU UNTUK PAMAN LEE

Saya banyak belajar mengenai perbedaan dan kehormatan dari ibu saya. Ibu saya mengajarkan kehormatan itu tidak diberi, ia diperjuangkan, orang lain yang memberikan gelar itu untuk kamu. Oleh karena itu, alih alih memanjakan, ibu saya kerap mengajarkan saya untuk bekerja jika ingin sesuatu. Agak keras memang, tapi bukan karena pelit, namun juga karena kondisi ekonomi keluarga yang demikian susah.

Saat saya lulus SMP, keluarga kami demikian miskin bahkan untuk makan kadang ibu saya meminta kami main ke rumah saudara. Harapannya mereka bisa memberikan makan untuk saya. Kira-kira semiskin itulah kami. Ketika penerimaan siswa baru untuk masuk SMA, ibu benar benar tak punya uang. Saat kritis menjelang beberapa jam menuju penutupan pendaftaran sekolah, kawan ibu seorang Tionghoa datang. Namanya paman Lee. Paman Lee memberikan saya sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendaftar sekolah, dan sisanya sejarah.

Paman Lee menggenapi semua sterotipe seorang Tionghoa pelit, gemar menggunakan celana pendek, kemeja lengan pendek dengan tiga kancing terbuka, dan kemana-mana membawa buku catatan. Ia jadi berbeda karena bertahun-tahun, bahkan sebelum saya lahir, Paman Lee adalah kerabat dekat keluarga. Ia tipe orang yang tidak keberatan memberikan pinjaman saat keluarga kami membutuhkan, saat malam takbiran ia mengirimkan parcel berisi aneka kue dan kerap memberikan angpau ketika lebaran tiba.

Dua hari sekali Paman Lee datang ke rumah kami, hampir teratur, biasanya bertemu kakak atau ayah saya. Pada bulan puasa biasanya ia datang agak lebih sering, entah menghantar pesanan ibu atau sekedar minum kopi. Paman Lee biasa minum kopi di hadapan kami yang sedang puasa, tentu ini bukan karena ia arogan atau apa, tapi karena memang keluarga kami yang menawarkan. Biasanya kalau Paman Lee datang ia akan saya buatkan kopi susu dan segera menikmatinya tanpa canggung.

Tidak ada yang merasa kehormatannya terganggu karena segelas kopi susu itu. Karena sebagai pemeluk Katolik, Paman Lee tidak harus direpotkan dengan ibadah kami dan kami juga tidak berniat memaksanya untuk berpuasa. Tidak jarang, kalau memang sedang lapar, Paman Lee malah makan dari dapur kami di tengah saya dan adik yang sedang puasa. Apakah ayah dan ibu saya marah? Tidak, apakah saya dan adik saya batal? Tidak juga. Sesederhana karena ia bukan Muslim, tidak diwajibkan puasa, ya kalau lapar makan saja. Kami tidak tertarik.

Ini bukan yang pertama ibu menghormati keyakinan orang lain, ketika almarhum kakak saya membawa kawannya seorang bule saat bulan puasa, ibu memasakkan makan siang untuk bule itu. Si bule yang tak pernah makan tempe tahu itu lahap dan menawari kami makan yang sedang puasa. Tentu kami menolak, belakangan si bule itu merasa tidak enak karena harus makan di antara kami yang sedang puasa. Ibu di sisi lain malah berkata “kalo mas itu tahu kita puasa, dia pasti gak mau makan, kesian kan,” kata ibu saya.

Bertahun kemudian ketika saya lulus sekolah dan meneruskan jenjang kuliah Paman Lee masih datang mengunjungi keluarga. Namun karena usia yang sudah mulai tua, ia hanya datang sebulan sekali, minta dibuatkan kopi. Paman Lee pernah bertanya, kenapa Ibu begitu baik padanya. Padahal ia Tionghoa dan Katolik. Ibu saya bilang, dahulu saat masih kecil, kakek pernah melindungi seorang Tionghoa yang dituduh PKI. Kakek berkata pada Ibu, kalau kamu masih membedakan orang hanya karena penampilannya, lebih baik berhenti jadi manusia.

Ibu saya seorang muslimah konservatif, ia berkerudung besar, menggemari ustad Arifin Ilham dan sangat membenci Gus Dur yang dianggap Liberal. Tapi ia toh tidak segan mengucapkan selamat natal kepada Paman Lee, sesederhana karena mengucapkan dan mendoakan hal baik pada orang lain tidak akan membuatmu jadi buruk.

ARMAN DHANI
Jurnalis dan Penulis Lepas

________________

Sumber foto: wallpaperswide.com

Comments