Rio Tantomo
By: Rio Tantomo
July 31, 2015

BERSAMA PROJECT DAN KESETARAAN GENDER

Di dunia kita hidup ini ada satu gender yang dibebaskan untuk menjadi apa yang dia mau, dan ada satu gender yang diberi batasan.
• Kartika Jahja

Pernahkah kalian dilecehkan secara seksual ketika sedang berada di atas panggung? Sebagai perempuan, Kartika Jahja pernah, diraba dan disorongkan kamera dari bawah roknya. “Bahkan waktu manggung di Jogja tahun 2006 ada yang sengaja masturbasi langsung di depan gue,” akunya. Perlakuan barbar derajat binatang itu tentu saja melecehkan martabatnya, bukan saja tidak senonoh tapi juga mencerminkan bagaimana murahnya sebuah kehormatan sebagai manusia. Keamanan dirinya jelas terusik. Begitu mudahnya pesona keindahan dijadikan sebuah objek kerendahan moral.

“Orang berpikir karena gue berada di atas panggung, mereka boleh melakukan tindakan-tindakan seperti itu.” Lebih celakanya, lanjut Tika, panggilan akrabnya, respons hampir semua orang di sana ketika hal itu terjadi pun tidak kalah buruknya. “Mereka hanya menertawakan gue, dan melumrahkan kejadian itu.” Kenyamanan pun akhirnya menjadi sesuatu yang mahal bagi seorang bintang panggung, terutama jika dia seorang perempuan.

Lain lagi dengan Rebekah Moore, seorang ekspatriat asal Amerika Serikat yang sejak 2008 tinggal di Bali dan kini menetap di Jakarta. Pengalamannya terdiskriminasi sebagai perempuan juga dirasakannya begitu parah, tidak hanya ketika di Indonesia tapi juga sejak masih di Amerika. “Aku ingat, dari dulu bahkan sampai sekarang kalau datang ke job interview itu kita tidak boleh pakai celana, harus rok.” Permasalahan kecil, tapi tetap, baginya itu sangat tidak adil. Kenapa harus selalu ada batasan dari norma masyarakat yang diberlakukan untuk perempuan. “Yang lebih parah,” katanya lagi, “untuk menjadi dosen atau kalau mau kuliah sampai S3, kita harus pilih: mau punya anak atau mau punya karir. Makanya sekarang 70% dosen didominasi oleh laki-laki.”

Atas dasar keresahan itulah dua perempuan ini akhirnya sepakat untuk membentuk sebuah gerakan bernama Bersama Project yang bertujuan untuk menyetarakan derajat mereka, kaum perempuan dengan laki-laki. Juga sekaligus menghapuskan kekerasan yang sering menimpa perempuan. Langkah pertama telah mereka lakukan, yaitu menyelenggarakan sebuah acara penggabungan seni, musik dan aktivisme sebagai kendaraan bagi pesan yang ingi mereka sampaikan: ‘Kesetaraan gender adalah kolaborasi antara perempuan dan laki-laki. Intervensi kreatif dapat mewujudkannya’ di mana terdapat diskusi dan penampilan dari empat musisi perempuan yang dianggap mewakili suara kaumnya hari ini.

“Intervensi musik adalah istilah yang aku pakai untuk music activism sebab aku nggak suka istilah ‘protest song’, itu kayak kita complain aja, sama kayak lagu kritik sosial. Mengkritik tanpa hasil. Karena aku mau kerja dengan semua media seni, jadi let’s think about something yang intervensi tapi melalui seni,” tutur Rebekah.

Kartika Jahja. | Foto: Putri Indah Pohan.

WonderbraWonderbra. | Foto: Iman Fattah.

Berikut adalah obrolan santai sore hari yang diselingi berkaleng bir dengan dua perempuan penggagas Bersama Project.

Jadi, isu utama dari Bersama Project ini adalah menyetarakan gender antara laki-laki dan perempuan.

Kartika Jahja (KJ): Setara tapi bukan sama, ya. Misinterpretasi-nya adalah ‘kenapa kita mau disamakan dengan laki-laki?’ Kita bukan sama tapi setara, karena kita bisa jadi siapa aja yang kita mau pada saat kita setara. Punya hak yang sama, martabat yang sama, juga akses dan kesempatan yang sama. Lo bisa jadi ibu rumah tangga kalau memang itu yang lo mau, bukan karena tuntutan masyarakat, tuntutan suami maupun agama. Jadi payung besarnya Bersama Project adalah gender equality dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Tapi (isu) yang pertama kali kita luncurkan adalah tentang kesetaraan di tempat kerja.

Tapi tampaknya masalah kesetaraan itu akan jadi hal yang sulit diwujudkan di negara patriarki seperti Indonesia, ya.

KJ: (tertawa)

Rebekah Moore (RM): Yang jelas ini bukan hanya masalah di negara Asia kayak Indonesia. Di Amerika pun juga sama.

KJ: Tapi di sini juga menurut aku udah banyak banget improvement-nya. Kayak, kalau misalnya hari ini aku dibilang berlebihan atas tuntutan-tuntutan kesetaraan, tapi aku bisa ada di sini karena dulu ada perempuan-perempuan lain yang juga berlebihan menuntut supaya perempuan bisa bersekolah. So I demand this not for me but for future perempuan supaya punya kesetaraan.

Sekarang perempuan itu, seperti yang Bekah bilang, harus cantik dulu baru dilihat kompetensinya. Terus upah juga belum setara antara laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama. Atau misalnya bagaimana kita mau ambil kredit di bank itu harus pakai persetujuan suami. Even hal kecil kayak ke dokter, harus ditanya dulu: ‘Ini suami ibu sudah tahu?’ Ini badan gue, bukan badan suami gue! Misalnya lagi di industri musik, aku nggak ngomongin di skena indie doang nih ya… dih, jijik banget sih kata-katanya…

Skena indie (tertawa).

KJ: Paling males, deh. Habis nggak ada kata-kata lain (tertawa). Ya kita nggak mau exclude, misalnya di industri musik dangdut atau teman-teman yang nyanyi Top 40 di kafe, mungkin situasinya bisa lebih parah lagi.

RM: Atau contohnya para musisi di Bali, itu susah banget buat ketemu perempuan yang mau ambil bagian. Misalnya kita lihat di skena indie di Bali (tertawa)… sekarang hanya ada dua perempuan yang sering tampil. Itu saja, titik. Berarti sangat kurang perempuan yang terlibat. Tapi kalau kita lihat di sekitar bandnya, misalnya manajer, publisis, orang merchandise atau istri di rumah yang ngurusin anak-anak, mereka semua penting dan punya role yang harus dihargai. Tapi tidak ada yang melihat mereka. Kita harus mulai menilai semua pihak yang terlibat, dan kasih kesempatan pada perempuan untuk bekerja. Tapi Bersama Project juga tidak hanya tentang keterlibatan perempuan dalam industri musik, tapi juga hak mereka sebagai perempuan untuk punya tempat kerja yang aman dan setara.

Mungkin perempuan sudah ditanamkan sejak dulu kalau mereka, bisa dibilang lebih lemah atau dianggap harus bergantung terhadap laki-laki sehingga sulit bagi kalian untuk menyadarkan mereka mengenai masalah kesetaraan ini.

KJ: Itu mungkin yang membedakan Bersama Project dengan inisiasi perempuan yang aku tahu selama ini. Kita bukan menyasar women empowerment dengan jargon-jargon ‘you can do it!’. We know they can do it. Tetapi ada sistem, budaya yang membuat kita cuma memperpanjang rantai yang mengikat kaki kita. Apa gunanya kalau misalnya aku bilang, ‘kamu bisa’, ‘kamu berbakat’, ‘kamu nggak usah dengerin kata orang’, tetapi kemudian dia pulang ke suami yang bilang, ‘nggak pantes perempuan keluar malam’, ‘apa kata tetangga’, ‘anak gimana?’ — akhirnya dia dicerai sama suaminya karena lebih memilih untuk experiencing her carreer atau experiencing her life. Jadi percuma kalau kita cuma ngomong sama perempuannya tanpa menyasar masalah utamanya: budaya, bahwa sekarang pun sudah ada co-parenting. Kita tidak lagi ada di dunia yang semua harus dibebankan kepada ibu. Kita jadi orang tua itu sama-sama. Ayah dan ibu bekerja, dan itu bisa terbukti lebih bagus hasilnya karena keterlibatan ayah lebih besar, misalkan. So, we don’t just tell women to be braver, kita mau mengajak laki-laki untuk terlibat, kita mau melihat ini masalah budaya yang sudah mengakar, bukan lagi soal kita berani atau tidak.

RM: Itu artinya dari Bersama Project. Kalau kita mau perubahan dari sistem patriarki, ya kita harus kerja sama.

Kalian pasti akan berhadapan dengan kata-kata, ‘Itu kan kodrat perempuan: tidak usah bekerja, ngurusin rumah saja. Masalah kebutuhan rumah tangga biar laki-laki yang memenuhinya’.

RM: I hate that words.

KJ: Yang membedakan kodrat perempuan hanya secara biologis, aku punya vagina kamu punya penis. Selebihnya gender rolling aja karena kita dari kecil udah dibilangin mana yang boleh dan mana yang tidak, baik perempuan maupun laki-laki. Itu diasumsikan begitu. Lahir langsung dikasih selimut biru dan selimut pink, itu saja sudah memisahkan; how we treat our little babies. Bagaimana anak perempuan itu dielus-elus, harus fragile — sementara yang laki-laki dilempar-lempar. Itu akhirnya terbentuk sampai dewasa bahwa yang ada sisi kuat, sedangkan gue di sisi yang melayani dan dikangkangi.

Sebenarnya banyak perempuan yang punya sisi feminin dan maskulin, sebaliknya juga laki-laki, punya sisi maskulin dan feminin, dan itu tidak bisa kita batasi dengan aturan. Jadi gender role itu kita sendiri yang menciptakan. Kodrat itu menurut aku, tanpa menyasar ke ranah agama, ya, kalau memang sebuah budaya itu ternyata over the years banyak merugikannya daripada menguntungkannya, sementara kalau kita bekerja sama secara setara dan memikul ini bareng-bareng itu bisa lebih gampang, ya sudahlah kenapa tetap harus kita pertahankan sesuatu yang merugikan?

RM: Kalau dengar ini role perempuan, itu role laki-laki, kenapa kita tidak bisa membuka batasannya. Kenapa aku nggak bisa pilih untuk bekerja, dan kenapa suamiku nggak bisa pilih kalau mau tinggal di rumah dan urus anak-anak. Atau kenapa kita tidak bisa saling kerja sama?

KJ: Sebenarnya intinya ada di kerja sama. Karena di dalam dunia yang kita hidup sekarang ini ada satu gender yang dibebaskan untuk menjadi apa yang dia mau, dan ada satu gender yang diberi batasan. Kalau memang nggak ada sama sekali pikiran untuk memandang rendah kepada pekerjaan domestik, kenapa nggak kita bebasin aja? It’s noble. Jangan sampai kita dibatasi, ‘ini bukan tempat lo dan ini tempat lo’.

Bagaimana peran ibu pada masa dulu kalian tumbuh?

KJ: Ibu gue seorang yang sangat berkarir tapi masih tetap terikat dengan gender roles yang tadi disebutkan. Seperti misalnya ayah gue sama sekali nggak terlibat dalam upbringing gue karena dia merasa itu tugas ibu seratus persen. Pokoknya asal udah bawa pulang duit itu udah cukup sebagai tugas kepala rumah tangga. Sementara ibu gue juga bringing home the cash tetapi dia juga harus memikul seratus persen pekerjaan rumah tangga. Bahkan ayah gue tidak tahu di mana tempat kaos kaki. Akhirnya beban itu berat sekali ke ibu. Gue melihat itu seharusnya bisa dipikul sama-sama, dan gue nggak suka konsep nahkoda rumah tangga — kita harusnya jalanin ini sama-sama, susah dan senang. Itu salah satu yang inspiring gue, while my father never said dia nggak boleh berkarir, tapi dia juga dituntut untuk jadi perempuan yang domestik banget.

RM: Well, untungnya adalah bapak dan ibuku mereka cerai waktu aku masih kecil (tertawa). Ibuku dia feminis banget. Aku diajak ke rally LGBT, ke rally feminisme dari kecil, dan sampai sekarang dia mendukung apapun gaya hidup yang aku lakukan. Aku dapat inspirasi dari melihat beban dia sebagai single mother, itu berat banget.

Bersama Project ini lekat dengan gerakan feminisme, dan kenyataannya banyak yang anti atau sebal dengan feminisme. Kenapa itu bisa terjadi?

RM: Aku melihat bagaimana gerakan itu di Amerika diambil oleh satu kelompok perempuan, yaitu kelas menengah — orang berkulit putih yang juga lupa tentang beban ekonomi atau ras yang sebenarnya penting untuk dinilai, dan gara-gara itu aku juga punya negative reaction dari istilah feminisme itu. Buat aku feminisme itu sama dengan humanisme. Bedanya, feminis mereka fokus untuk mengangkat agar derajat perempuan sama dengan laki-laki.

KJ: Karena memang dalam feminisme-nya sendiri banyak banget yang prakteknya berbeda-beda. Kalau feminisme yang kami usung itu adalah, ya kesetaraan, bukan mencoba untuk menyamakan. I just want them able to be themselves and be whoever they want, bukan berarti, ‘ah lo jangan keseringan manicure atau pergi ke salon. That’s counter feminism.’ Enggak! Sebenarnya kita mencoba untuk tidak menjadi keset yang cuma buat ngelap kaki doang. Itu saja kok.

Mungkin gerakan-gerakan tertentu dinilai terlalu radikal dan sangat keras seperti kelompok Femen yang membuat feminisme sering dicibir?

KJ: It’s not my fight, man. That’s not how I do it. Femen, mereka melakukannya dengan shock therapy.

RM: Itu seperti aktivis lingkungan yang penuhi jalan dengan bawa sepeda biar mobil nggak bisa lewat. Ok, tapi orang lain akhirnya cuma marah sama kamu. Kalau kita menggunakan cara-cara kekerasan untuk menyampaikan kepercayaan, itu menurut aku jauh di luar tujuan dari Bersama Project. Tetap lawan semua kekerasan. Gunakan edukasi.

KJ: Kalau kita dari awal sudah memperlihatkan kemarahan, orang akan lari duluan. Bagaimana mau bangun komunikasi kalau lo pissed people off sebagai pintu masuknya? Mau ngomong baik-baik aja masih dicuekin. Gue nggak tertarik dengan itu. Mending kita membangun dialog atau bertukar pikiran.

YackoYacko. | Foto: Iman Fattah.

Selain karena memang berbeda, apa yang membuat kalian tidak ingin perempuan disamakan dengan laki-laki?

KJ: Kita sudah terbiasa dengan konsep bahwa maskulin adalah kuat dan feminin adalah lemah. Karena kuat itu bukan selalu maskulin, feminin itu juga bisa kuat. Kalau penyamaan, akhirnya kita sama-sama meninggalkan sisi feminin kita menjadi maskulin agar bisa dibilang bahwa kita sama kuat. Misalnya nilai-nilai maskulin yang negatif, seperti violence, domination yang kemudian diadopsi sama perempuan agar dia bisa play at the same level with the boys. Itu penyamaan. Bukan itu intinya. Laki-laki dan perempuan sama-sama punya kemampuan to be strong and to be nurturing. Sekarang di laki-laki nurturing dihapuskan, di perempuan strong dihapuskan. Ternyata sebenarnya kita bisa punya dua hal itu sekaligus.

RM: Yang penting perempuan harus dapat hak, martabat dan kesempatan yang sama dengan laki-laki.

Apa kalian menyadari jika secara alami terkadang perempuan memang mempunyai kondisi yang lebih berat dibanding laki-laki, seperti ketika hamil misalnya?

RM: Seharusnya tidak seperti itu, we can work sampai melahirkan! That’s not the problem

KJ: Sebenarnya itu berhenti di situ. Fungsi kita sebagai perempuan terbatas pada melahirkan dan menyusui, selebihnya kita bisa bagi. Ya kalau dibilang secara nature kita lebih sulit karena kita punya tugas untuk melahirkan dan lain-lain. Tapi orang hamil itu lebih kuat daripada yang kita pikir. Perempuan hamil tidak se-fragile itu, mereka masih bisa tetap bekerja. Pada saat menyusui mereka juga masih bisa tetap beraktifitas.

RM: Itu maksudku. Aku bisa punya anak dan tetap bekerja, tapi ada asumsi aku dianggap tidak bisa.

Ketika memperlakukan perempuan hamil secara berbeda, atau bisa disebut diistimewakan, apa hal itu bisa kalian anggap sebagai kepedulian atau peremehan dari laki-laki?

KJ: Aku nggak pernah menganggap diremehkan oleh laki-laki… Tapi bisa jadi perempuannya juga kadang-kadang yang seksis. Bukan hanya laki-laki, perempuannya juga bisa seksis. Kayak kemarin sempat ada kaos dengan tulisan washing instruction di labelnya: ‘Give it to your woman, it’s her job’, itu seksis banget. Tapi kalau kita balik, misalnya untuk berlian: ‘Give it to your man it his job to buy us a diamond’, itu juga seksis.

Jadi gender rolling ini bukan seratus persen salah laki-laki. Perempuan juga memposisikan dirinya di situ. Kadang kita merasa diuntungkan, misalnya ‘ladies first’. Tapi kalau kita lihat garis besarnya, itu merugikan. Sebagaimana juga laki-laki ditempatkan pada posisi superior, ‘saya pemimpin’, tapi di sisi lain bebannya besar banget karena nggak semua laki-laki mungkin ingin menjadi pemimpin. Itu adalah dua hal yang sama-sama merugikan karena kita dianggap nggak bisa memenuhi berbagai standar yang sudah dibikin sama masyarakat.

Atau seperti memberikan tempat duduk di bus kepada perempuan, misalnya.

KJ: Kalau mengenai dikasih tempat duduk atau dibukain pintu, itu menurut aku ‘our kindness’. Kalau lihat nenek-nenek atau kakek-kakek atau orang hamil, aku juga akan berdiri memberi mereka tempat duduk, bukan karena dia perempuan atau laki-laki, tapi karena dia lebih membutuhkan itu dibandingkan aku. Bisa dibilang that’s our previlege sebagai perempuan. Dapat tempat duduk, itu keuntungan buat kita tapi karena kita dianggap lebih lemah. Kemudian si perempuan turun dari bus dan pergi ke job interview dan dapat anggapan, ‘ah perempuan, nggak bisa nih untuk kerjaan ini’. Garis besarnya, perempuan dapat tempat duduk karena dianggap lebih lemah, itu untung buat dia, tapi pada saat kita melihat perempuan sebagai kaum lemah dan dia nggak dapat pekerjaan padahal sebenarnya dia mampu, itu rugi buat dia. Jadi kita melihatnya di kehidupan secara luas, bukan hanya scene di dalam bus saja.

Sama halnya juga dengan ‘woman parking only’.

KJ: Yes, exactly. Mengasumsikan bahwa perempuan nggak bisa nyetir, sehingga kita akhirnya nggak bisa nyetir beneran karena nggak dikasih kesempatan. Secara psikologi itu membuat perempuan menjadi lebih lemah. Atau misalnya saat dating, ceweknya yang nyetir, anggapan orang pasti akan menganggap cowoknya lemah. Jadi, ya sama aja. Pembatasan-pembatasan seperti itu merugikan dua-duanya pada akhirnya.

Kalau masuk ke ranah agama, khususnya di Indonesia yang notabene mayoritas Islam di mana laki-laki selalu dianggap sebagai khalifah yang derajatnya lebih tinggi dibanding perempuan, di samping juga tradisi patriarki yang kuat itu tadi. Berarti langkah kalian untuk penyetaraan ini bisa dibilang akan cukup berat.

RM: Itulah maksud dari intervensi kreatif, yang menurut aku bisa sangat efektif untuk merubah mindset karena seni adalah simbol dari kemanusiaan. Esensinya kita bisa saling menikmati, dan dari itu kita bisa mengalami empati, yang juga menjadi strategi untuk mencapai rasa kemanusiaan. Buat aku sebagai humanis, kita akan mencoba melalui medium komunikasi, yaitu seni untuk membahas persoalan secara kolektif. Perempuan harus kerjasama dengan laki-laki untuk mencapai keadilan dan kesetaraan.

KJ: Gue menyebutnya, bukan agama problem-nya, tapi penafsirannya. Tapi bukan lantas kita malah memusuhi agama, justru kita mencari di dalamnya orang-orang yang lebih paham dari kita tapi juga punya perspektif gender yang sama. Kalau gue ngobrolnya sama Uni Fahira Idris, ya nggak bakal nyambung karena kita nggak punya knowledge level yang sama tentang masalah ini.

Jadi memang itu hambatan terbesar untuk penyetaraan gender di Indonesia?

KJ: Ya agama dan kultur karena selama ini, itu dianggap sebagai suatu yang baku dan nggak bisa diubah, dan gue nggak percaya dua hal tadi sekaku itu.

RM: Tapi itu salah satu faktor yang harus kita riset juga, bagaimana caranya mencapai kesetaraan gender dengan tetap menghargai tradisi. Dan tidak semua tradisi itu dianggap tepat ketika menimbulkan pendominasian terhadap satu kelompok tertentu.

Kalau kebijakan pemerintah sendiri terhadap perempuan bagaimana?

KJ: Pemerintah di mana-mana di seluruh dunia, bukan cuma di Indonesia doang, policy maker — penguasa itu rata-rata laki-laki. Tidak banyak laki-laki yang punya perspektif gender yang baik juga. Jadi udah laki-laki, misoginis, terus disuruh mengatur undang-undang tentang perempuan, ya yang ada perempuannya yang diatur-atur. Misalnya, ‘oh, kita nafsu melihat perempuan bajunya terbuka, jadi lo aja yang disuruh tutup’, bukan meregulasi kita harus mewujudkan tempat yang aman atau mengedukasi laki-laki dan perempuan soal tubuh, soal seks.

RM: Di Indonesia Undang-Undang Kesetaraan Gender sampai sekarang tidak keluar, tapi bikin draft-nya sudah sejak tahun 70an.

KJ: Bisa aja mereka bilang, ‘kita udah bikin gerbong khusus perempuan kok’, iya, tapi mereka tidak menyasar permasalahan sebenarnya bahwa, ‘karena perspektif apa sih kekerasan seksual itu terjadi?’. Jadi hanya dikasih extinguisher doang.

Batas nikah antara perempuan dan laki-laki pun dibedakan dalam UU Perkawinan. Bahkan baru-baru ini Pemerintah menolak menaikkan usia minimal perempuan untuk menikah dari 16 tahun ke 18 tahun. Menurut gue itu bentuk nyata dukungan terhadap pedofilia.

KJ: Undang-Undang Perkawinan itu sangat male oriented! Terus Undang-Undang Kekerasan Seksual, penetrasi penis ke vagina baru dibilang perkosaan, di lain itu bukan. Jadi kalau misalnya pemaksaan oral, di luar negeri itu sudah termasuk perkosaan, tapi di Indonesia belum dianggap. Itu masuknya pelecehan — maksimal hukumannya 7 tahun, kalau perkosaan maksimal 15 tahun.

RM: Tapi Komnas Perempuan sekarang sedang berusaha untuk mengubah Undang-Undang itu.

Bukannya banyak juga perempuan yang duduk di lembaga Pemerintah, apa itu banyak membawa pengaruh?

KJ: Memang banyak, ya?

(tertawa) Kan beberapa perempuan sekarang menduduki posisi yang bisa dibilang setara dengan laki-laki, seperti Menteri atau Direktur Bank Dunia yang dijabat oleh Sri Mulyani.

KJ: Iya contohnya Susi (Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan). Tetapi, it’s good that she’s getting all the attention because she’s a woman, but in the way, not good she’s get all the attention just because she’s a woman. Apakah dia akan disorot karena merokok kalau dia laki-laki? Atau punya tato? Atau misalnya, ‘wah dia nggak keibuan karena duduknya ngangkang!’. Itulah problem yang masih kita alami saat ini, nggak bisa kita cuma melihat dia sebagai perempuan yang kerjanya bagus. Tapi masih juga dibebani embel-embel stereotype perempuan, mau dia Menteri atau Presiden sekalipun.

Oke, terakhir. Gue selalu suka melihat seorang perempuan bermain bas, kelihatannya indah karena gestur perempuannya membuat dia lebih menarik di mata. Tapi berbeda misalnya kalau gue melihat perempuan bermain drum, rasanya gestur perempuannya kurang cocok (tertawa). Apa gue bisa disebut seorang seksis?

KJ: Mungkin bisa dibedakan antara seksis dan mengagumi. Atau misalnya timbul pikiran di otak lo untuk, ‘wah, gue harus nidurin dia’.

Nggak berpikir sampai sejauh itu, sih. Hanya secara visual menurut gue itu adalah sebuah keindahan tersendiri ketika melihat perempuan main bas.

KJ: Menurut gue, sih itu lo sekadar mengagumi. Tapi lo peduli nggak dengan bagaimana skill yang dia punya ketika main bas atau main drum? Atau hanya karena dia perempuan saja?

Sejujurnya gue nggak terlalu peduli dia jago atau tidak mainnya, ya tapi jangan nggak tahu kord dan cuma bergaya doang juga, sih. Ini benar-benar hanya persoalan mata; keindahan gestur perempuan ketika mereka pegang bas.

RM: Sorry to say, but ya that’s sexiest.

KJ: Yes (tersenyum).

RIO TANTOMO
Penulis

______________

Tonton juga video dari Wonderbra untuk Bersama Project

• Lebih jauh dengan Bersama Project klik situs webnya bersamaproject.tumblr.com, akun Twitternya @bersamaproject, serta Facebook page mereka facebook.com/bersamaproject
• Featured image by Iman Fattah.

Comments