Rio Tantomo
By: Rio Tantomo
June 29, 2015

KAMI MARAH; INI BUKAN ARAB, BUNG!

Mari kembali ke tahun 2010. Judul di atas berasal dari dua buah lagu milik komplotan hardcore/punk asal Bandung, Milisi Kecoa, “Kami Marah!” dan “Ini Bukan Arab, Bung!”. Jika kuping kalian langsung memerah naik pitam ketika membacanya, berarti lagu tersebut telah berhasil dalam menjalankan misinya: menyenggol para tertuduh, menolak pendominasian yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok tertentu, yang terbiasa menganggap dirinya superior, paling berhak, pemaksa kehendak dan suka menghakimi secara sepihak.

Milisi Kecoa jelas menolak sikap-sikap tersebut. Tanda seru di akhir masing-masing judulnya memperlihatkan penegasan itu, beramarah sekaligus menadakan sinyal peringatan, bahwa cukup sudah, mereka telah sepenuhnya muak atas keadaan yang terjadi. Sekiranya dua judul tadi diverbalkan, nilai mendidihnya mungkin akan serupa dengan sebuah tudingan jari telunjuk langsung tepat di depan hidung pesekmu, ditekankan, sebelum melayangkan bogem mentah.
MilisiKecoa-mnpgDan demi tidak adanya justifikasi kacamata kuda bahwa mereka tengah menyerang satu ajaran tertentu, ada baiknya kita kutip terlebih dahulu penjelasan dari lirik dua lagu tadi yang tercantum dalam sleeve cover mereka; dua lagu tadi sejatinya berasal dari EP Kami Marah! yang dirilis pada tahun 2009 sebelum aransemennya dirubah dan ikut dimasukkan dalam debut album penuh mereka yang berjudul Kalian Memang Menyedihkan setahun berikutnya.

Yang pertama, “Kami Marah!” diserukan bagi mereka, para pribadi menyedihkan yang merasa inferior, pecundang pasrah yang tidak punya keberanian untuk bertindak, walaupun mereka tahu dan sadar sedang ditindas. Alasan mudahnya: menyerah, atau kerennya, apatis. Sedangkan dangkalnya adalah malas repot.

“Jangan pernah menganggap sebuah ketidakadilan dan kondisi buruk sebagai sesuatu yang ‘sudah dari sananya’ dan harus dijalani dengan lapang dada. Kalau semua orang berpikir seperti itu, tentu saja kita akan terus hidup dalam lubang pantat seperti sekarang. Amarah adalah salah satu amunisi yang sangat potensial untuk membakar dunia ini, dan kemudian merubah dunia ini, membangun dunia di atas puing-puing dunia yang lama. “Cukup dengan semua ini! Kami ingin hidup. Bukan hanya bertahan hidup.”

Kalimat “ingin hidup, bukan hanya bertahan hidup” itu menyatakan sebuah kualitas perjuangan, semacam halnya “bukan hanya tahu, tapi juga memberi tahu” yang menggambarkan satu keinginan kontribusi daripada sekadar mengerti dan berserah diri. Dan Milisi Kecoa memilih untuk menempuh jalan punk rock, melawan doktrin—norma yang dijejali secara paksa macam itu. Menjadikan mereka sebagai pribadi yang merdeka; bebas bertindak, bebas berpikir dan tidak bergantung terhadap pihak manapun.

Kemudian “Ini Bukan Arab, Bung!” menjawab pertanyaan benak tentang seperti apa itu “sebuah ketidakadilan dan kondisi buruk” yang membuat Milisi Kecoa muntab dalam penjelasan lagu “Kami Marah!” tadi.

Menggunakan Arab sebagai objek merupakan salah satu contoh kasus paling gamblang yang kerap terjadi di sini—di negara ini. Pengukuhan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang lupa kalau masyarakat kita terdiri dari berbagai macam jenis keragaman, dari budaya, suku, agama serta perilaku. Sehingga begitu kita berusaha untuk menyeragamkannya, atau dengan kata lain menghilangkan keragaman tadi merupakan sebuah tindakan menafikkan asal-usul bagaimana masyarakat kita terbentuk; memberangus toleransi dan bagi mereka, Milisi Kecoa pun juga saya, sebagai suatu manifesto pemaksaan akhlak.

Berikut lirik lagunya—singkat, lugas dan langsung tohok, “Kau paksakan budaya, tapi kita bukan di Arab di jaman Nabi. Cepatlah kau mati, tagih pahalamu di surga. Surgamu, Nerakaku,” yang mereka jelaskan sebagai berikut:

“Lagu ini bukanlah sebuah serangan terhadap pemeluk agama tertentu, tapi merupakan sebuah kritik terhadap mereka yang memaksakan hukum agamanya pada semua orang di sekitar tanpa pandang bulu… Agama dan keyakinan adalah hal yang sangat personal… Mimpi dan ideal yang kau percaya dan yakini, adalah milikmu sendiri. Jangan paksakan orang lain untuk memiliki mimpi yang sama denganmu. Agama beserta semua hukum-hukumnya adalah hal yang personal, dan biarkan itu tetap personal. Lagipula, apa gunanya kalau orang lain ikut jalanmu dengan dilandasi keterpaksaan?”

Apa yang ingin dituju dari dua lagu tadi sebenarnya tidak sulit untuk dilakukan. Hanya dibutuhkan rasa hormat dan penghargaan terhadap perbedaan, serta menyadari betapa indahnya memeluk diri sebagai sebuah bangsa yang kaya nan bhineka. Itu saja. Bahwa kemudian agama dianggap sebagai sumber ladang permusuhan, itu adalah akibat dari usaha pendistorsian, terutama dari ranah politik—hipokrit, serta tindakan arogansi yang coba menggerogoti takdir kemajemukan masyarakat demokrasi kita.

Atau mudahnya, coba jawab saja pertanyaan ini: “Maukah kalian mengikuti ajaran atau pola hidup yang tidak sesuai dengan hati nurani?” Kalau tidak, lebih baik jangan paksakan juga milik kalian. Karena pemaksaan hanya akan mengakibatkan tindakan perlawanan berikutnya, dan kalau menurut kalian semua yang bertentangan akan mendapat vonis neraka, biarkan itu dinikmati nanti di akhirat, bukan di depan congor kalian.

Dan akhir kata, lekaslah belajar saling menghargai.

RIO TANTOMO
Penulis

Comments