Saras Dewi
By: Saras Dewi
June 29, 2015

GELIAT PEREMPUAN DALAM LINGKARAN ADAT

Dalam dunia patriarki, perempuan yang terlahir telah ditentukan masa depannya. Sedari kecil hingga dewasa, ia diarahkah untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu, tugasnya mengurus suami, anak, dan urusan domestik. Ia lebih dihargai jika pandai memasak, daripada menulis jurnal akademik, atau membuat inovasi yang berguna bagi kepentingan orang banyak. Ia lebih dikagumi karena kepura-puraan tingkah laku yang anggun dan pribadi yang halus. Ia dicintai karena dapat membahagiakan suami dan ayah karena tidak membangkang dan berkelakuan baik. Patriarki atau (pha)logosentris bekerja dengan logika semacam itu. Perempuan dinarasikan sebagai sosok yang bungkam. Ia tidak dapat berbicara, atau mengungkap pikirannya. Ia layaknya properti, keberadaannya merupakan kepunyaan keluarga, adat, atau sosial. Pikiran dan tubuhnya mesti “dilindungi” agar tidak menjadi pembangkang dan mengikuti tatanan.

Dengan begitu, tidak ada keanehan dalam logika patriarki saat misalnya, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menerbitkan beleid jam malam bagi perempuan. Peraturan yang telah berlaku nyaris selama dua minggu itu membatasi aktivitas perempuan sebagai pekerja wisata, penyedia layanan internet, dan pramusaji hingga pukul 11.00 malam kecuali ditemani keluarga yang laki-laki atau suami.

Namun, itu baru satu ketentuan. Tidak lama sebelumnya, Pemerintah Provinsi Aceh juga menerbitkan larangan, perempuan tidak dapat duduk dengan paha terbuka lebar/ngangkang. Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya menerangkan merosotnya moral masyarakat ditandai dengan maraknya perempuan dibonceng me-ngangkang. Bagi para pembuat kebijakan yang menggunakan logika patriarki, segala tindak-tanduk perempuan mesti “diamankan” atas nama perlindungan. Hal itu diterangkan pemerintah pusat lewat Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Dodi Riyadmadji. Ia menerangkan gugatan beleid tersebut—yang menuai gugatan diskriminatif mesti disikapi sebagai upaya perlindungan. Dengan demikian, perempuan dalam dunia patriarki terang dianggap sebagai ancaman adanya tingkah laku buruk, pelecehan seksual, pengundang syahwat, moralitas degradatif, juga pelanggaran hukum.

Vifick-ladywithoffering

Mengatasi persoalan itu, aliran sekaligus gerakan feminis lahir sebagai reaksi atas subordinasi dan penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat patriarki. Simone de Beauvoir merupakan salah satu pemikir yang mengartikulasi gugatannya dalam The Second Sex (1949). Ia menerangkan kondisi mengendapnya logika patriarki dalam asumsi biologis terhadap perempuan, historisitasnya, bahkan mitos pada masyarakat. Dari kesemua situasi itu, perempuan selalu ditempatkan sebagai ada untuk yang lain/the others (être-pour-autrui). Beavouir mengungkap perempuan perlu menyadari hal tersebut guna memahami dirinya merupakan subjek yang eksis. Bagi Beauvoir, seseorang tidak terlahir sebagai perempuan, tetapi ia memilih menjadi perempuan. Identitas diri sebagai perempuan, bagi Beauvoir, bukan sesuatu yang terberi/given. Menjadi perempuan adalah pilihan sadar subjek yang tidak dideterminasi narasi biologi, psikologi, atau ekonomi dalam masyarakat.

Akan tetapi, ada yang luput dalam pemahaman itu. Meski Beauvoir mengusung perlunya perempuan menjadi subjek yang eksis dengan menyadari keberadaan diri dan membuat pilihan sesuai kehendak, seringkali ia dihadapkan pada situasi dilematis. Misalnya, dalam konteks perempuan adat, perempuan seringkali memilih menyerah pada tuntutan guna mempertahankan kearifan lokal/indigenous culture adatnya. Ia menyerah untuk disirkumsasi , menjadi orang yang membaktikan diri untuk upacara keagamaan, membuat sesaji, melayani suami, dan mengikuti sejumlah ketentuan lain, walaupun tidak sesuai dengan kehendaknya. Dalam konteks perempuan adat, terlebih bagi komunitas yang minoritas, situasinya lebih pelik. Pasalnya, perempuan mengalami penindasan yang ia sadari, tetapi tidak mampu keluar dari kerumitan itu karena terjerat dalam kebutuhan mempertahankan adatnya.

Misalnya, adat yang dihidupi masyarakat Bali. Perempuan Bali, khususnya yang ditulis Oka Rusmini dalam Tarian Bumi menggambarkan bagaimana subtilnya patriarki bekerja. Disebutkan dalam novel itu, “bagi perempuan Bali bekerja adalah membuat sesaji, sembahyang dan menari untuk upacara. Itu yang membuat kesenian ini tetap bertahan. Orang-orang dulu tidak membedakan mana aktivitasnya sebagai dirinya dan mana aktivitasnya dalam berkesenian.” Terlihat, bagaimana kesadaran perempuan telah dibentuk untuk menjadi penyokong adat, walau itu bertentangan dengan keinginannya. Dalam cerita itu, tokoh Ida Ayu Telaga diharuskan menikah dengan pria yang kastanya sama, atas alasan mempertahankan aturan adat. Meski nantinya, tokoh tersebut pun melanggar aturan itu, dan akhirnya ia diceritakan hidup menderita dan terasing. Melalui paparan itu, terlihat ada semacam posisi yang diametral antara kebebasan perempuan dan tuntutan adat. Seolah, adat merupakan faktisitas, melekat pada kesadaran perempuan. Sehingga, ia diandaikan tidak memiliki pilihan alternatif, selain mengikuti desakan mempertahankan keberlangsungan adat.

Mengatasi hal itu, aliran feminis multikultur tampak menawarkan solusi mengatasi posisi dilematis tersebut. Feminis multikultur berupaya melihat perjuangan perempuan yang juga diliputi komunitas adat, budaya, atau ras tertentu. Aliran itu tampak mengadposi sejumlah karakter dalam multikulturalisme, yaitu adanya rekognisi terhadap perbedaan (ethics of difference), kepedulian (ethics of care), dan keramah-tamahan (hospitality). Ide di balik multikulturalisme mengandaikan perbedaan sebagai kondisi yang niscaya. Maksudnya, identitas satu pihak tidak ditentukan karena kesamaannya (similarity), melainkan, hal itu dibentuk karena ada perbedaan antara satu dengan yang lain. Dengan begitu, kondisi ragam/plural merupakan faktisitas yang mesti dihidupi dengan merekognisi/mengakui perbedaan tersebut. Berdasar basis pemikiran itu, feminis multikultur berupaya mengakui perempuan dengan keragaman latar kultur/budaya, termasuk adat yang ia hidupi. Meski, pada perkembangannya, kekhawatiran yang muncul, batas dari aliran pemikiran dan gerakan feminis yang menjadi bias/kabur. Mengingat, ada tendensi mengakui nyaris seluruh perjuangan perempuan (woman struggle) adat—meski kondisi faktualnya memiliki kemungkinan masih menempatkan perempuan sebagai sosok yang tersubordinasi.

Rizoma dan Perempuan Skizofrenik

Meski feminis multikultural mencoba memberi solusi, tetapi upaya lebih radikal dapat dirujuk melalui pemikiran Deleuze dan Guattari mengenai konsep rizoma. Bagi keduanya, pelacakan terhadap akar yang diandaikan tunggal merupakan sebab dari adanya kebuntuan mencari solusi atas problem yang ada. Dengan begitu, Delueze dan Guattari mengajukan alternatif, yaitu perlunya mengakui sumber persoalan sebagai sesuatu yang plural. Layaknya rizoma, akar persoalan yang dihadapi merupakan multiplisitas. Akan tetapi, konsep rizoma itu juga dapat dipakai sebagai basis pemikiran guna mengatasi posisi dilematis yang dialami perempuan adat. Adanya pemahaman terhadap basis yang rizomatik memungkinkan adanya hibrida perempuan yang independen sekaligus memenuhi tuntutan mempertahankan adat.

Meski begitu, hal itu perlu dimulai dengan merekognisi basis pemikiran yang tidak tunggal, melainkan plural. Pengakuan terhadap adanya multiplisitas makna terhadap fenomena yang dihadapi menjadi langkah pertama mengusut dan mengurai persoalan. Adanya pemahaman terhadap akar yang plural berujung pada kemungkinan perempuan skizofrenik. Dalam konteks ini, perempuan skizofrenik dapat diandaikan sebagai semacam hibrida yang tetap bebas dan sadar atas pilihannya, tetapi juga mengupayakan diri mempertahankan kearifan lokal yang ada. Situasi itu dimungkinkan lantaran dalam basis pemikiran rizomatik, perspektif yang dikedepankan tidak lagi dikotomis kala melihat persoalan. Suatu fenomena berbeda tidak lagi dianggap sebagai posisi yang diametral, melainkan kondisi itu merupakan bentuk multiplisitas yang perlu diakui dengan mengakui kemungkinan perempuan skizofrenik sebagai hibrida hasil basis pemikiran yang rizomatik.

***

Daftar Referensi

Beauvoir, Simone de. 1956. The Second Sex (Eng.Tr). Great Britain: Lowe and Brydone.
Deleuze, Gilles dan Felix Guattari. 1987. A Thousand Plateaus. USA: University of Minnesota Press.
——————————-. 2004. Anti-Oedipus. USA: Continuum.
Okin, Susan Moller. 1999. Is Multiculturalism Bad for Woman?. New Jersey: Princeton University Press.

Comments